SEHARI SAJA KU MENGINGATMU


Malam terasa begitu pekat. Angin semilir berhembus kencang, membuat kaku seluruh tulang raga. Bintang-bintang bertaburan dilangit gelap, memancarkan cahaya-cahayanya, nampak begitu indah di mata. Suasana malam di puncak Gunung Semeru yang begitu indah membuat siapapun terpedaya karenanya. Diantara hamparan yang kecil di puncak gunung, terlihat seorang gadis berjilbab sedang terlentang disana. Entah apa yang ia lakukan,tidur atau sedang menikmati keindahan bintang-bintang, menikmati mozaik-mozaik dunia.

“ Fafaaaa………!!!!!!” tiba-tiba terdengar suara yang memanggil namanya. ‘Fafa’ begitulah orang-orang memanggil gadis itu. Dalam gelapnya melam Fafa melihat kearah suara itu datang. Sesosok pria datang menghampirinya,penuh kegagahan dan karismatik. ‘Fadil’ itulah panggilannya. Fadil adalah anak seorang Kyai pondok pesantren besar di Jombang. Ayah Fafa dan Fadil adalah sahabat dekat. Untuk mempererat hubungan mereka, mereka menjodohkan Fafa dan Fadil. Saat Fadil hampir lulus dari study S1 nya dan Fafa semester 5 di Universitas UIN malang, mereka bertunangan, dan rencananya mereka akan menikah setahun setelah bertunangan. Fadil akan berangkat ke Arab untuk melanjutkan study S2 nya. Melihat tunangannya datang menghampirinya, Fafa pun tersenyum. “ Neng….!!! masuk yuks! Dah satu jam lho pean di luar.” dengan kelembutannya, Fadil mengajak Fafa untuk masuk ketenda bergabung dengan teman-teman yang lain. Fafa pun tersenyum dan berdiri.

“ Yuks…” Fafa mencoba menggandeng tangan Fadil, tapi Fadil mencegahnya dengan nada bercanda.

“ Nengg!!!! Belum halal lho..!!! “ Fafa pun tertawa mendengar ucapan fadil. “Upps lupa klo belum halal.hehehe……!” Fadil hanya tersenyum manis mendengar ucapan Fafa. Fadil dan fafa bergabung dengan teman-temannya di tenda. Mereka bercanda dan tertawa bersama sampai tengah malam. Karena merasa lelah, merekapun mengakhiri dan pergi tidur di tenda masing-masing. Pagi datang begitu cepat, setelah Sholat Subuh, Fadil dan rombongannya duduk menghadap arah timur,menantikan Sang Surya terbit. Sangat indah, tak bisa dilukiskan dengan kata-kata keidahan matahari terbit. Yang keluar dari mulut mereka hanyalah kata ‘ Subhanallah’. Hari mulai siang. merekapun bergegas untuk turun. Hanya membutuhkan lima jam meraka sudah sampai bawah. Fadil mengantarkan Fafa pulang kerumah. Kepulangan mereka disambut bahagia oleh orang tua Fafa. Fadil langsung undur diri, karena takut orang tuanya akan cemas.orang tua Fafa berterima kasih pada Fadil. Setelah membersihkan diri dan makan, Fafa langsung tidur melepas lelahnya. Liburan kuliah Fafa sudah selesai, Fafa pun kembali beraktivitas seperti biasanya. Setiap harinya, Fafa selalu menyempatkan diri ke perpustakaan. Bagi Fafa perpustakaan merupakan tempat paling mengasikkan. Ketika Fafa hendak mengambil buku, tiba-tiba ada seorang pemuda yang merebut buku itu. Spontan Fafa pun kaget.

“ Astagfirullah halngadim” Fafa terlihat sangat kaget. Pemuda itupun minta maaf pada Fafa.

“Maaf mbak, dah bikin mbak kaget, tapi saya butuh banget buku ini, boleh saya duluan yang minjem.” Dengan menganggukkan kepala Fafa mengijinkan bukunya dipinjam duluan. Fafa beranjak untuk pergi,tapi pemuda itu menghentikannya dengan menarik tangan Fafa. Fafa sangat terkejut dan langsung menepis tangan pemuda itu.

“ Maaf mbak, gak bermaksud,reflek tadi!!!! Cuma mau tanya aja, namanya siapa biar ntar aku mudah ngasih bukunya.

” Pemuda itu merasa tindakannya barusan salah. “ Namaku Dzakky,Duta Dzakky hidayatul romadhon, jurusan TI. klo boleh tau nama mbak sapa ya?” “Fafa, Faristhatul Jannah, jurusan Fisika.

“Oooo, maaf yaa mbak Fafa soal yang tadi.”

“ Ia gak pa-pa!! Saya permisi dulu ya! Assalamu ‘alaikum!!”

“ Wangalaikum salam……” Dzakky merasa senang bertemu dengan Fafa. Dia mulai mendekati Fafa dengan beribu alasan. Satu minggu, dua minggu akhirnya mereka bisa berteman dekat. Dzakky merasa sudah cukup dekat dengan Fafa, dan ia memberanikan diri untuk mengutarakan isi hatinya. Mereka berdua sedang membaca di perpustakaan. Lalu Dzakky mengajak fafa bericara. “Faaa!!!!!” “Hmmm….” fafa terus asyik dengan bukunya.

“ Faaa……!” Fadil berusaha mencuri perhatiannya fafa.

“ Apa Dzak….!!!” fafa masih saja asyik denagn bukunya.

“ Aku sayang ma kamu…!!!” Fafa langsung berhenti membaca dan menatap temannya itu. Fafa pun tersenyum.

“ Jangan bercanda gak lucu tau..!!! dah yuks mau pulang aku!” Fafa berdiri dari tempat duduknya.

“ Aku serius Fa..! aku sayang ma kamu. Aku suka ma kamu dari pertama kita bertemu. Aku gak bercanda.!” Wajah Dzakky tampak serius. Fafa menyadari omongan Dzakky serius.

“ Aku gak bisa Dzak…maaf..!!!!” Fafa pun pergi meninggalkan Dzakky sendiri. Tak jauh dari tempat itu. Tiba-tiba Fafa jatuh pingsan. Dzakky yang menyadarinya langsung membawa Fafa kerumah sakit. Dzakky menelpon orang tua Fafa.Semua keluarga Fafa berkumpul di rumah sakit, termasuk Fadil. Semua menunggu dokter keluar untuk mengetahui keadaan Fafa.sampai saat itupun Dzakky belum tau kalau Fadil adalah tunangan Fafa. Dokter pun akhirnya keluar, Dokter mengatakan kondisi fafa baik-baik saja. Tapi dokter tetap harus melakukan tes pada Fafa untuk memastikan keadaan sebenarnya. Mereka semua di ijinkan masuk menemui Fafa. Ibunda Fafa langsung saja memeluk Fafa dan menangis.

“ Oalah nduk..nduk.. ada apa tho,kok nyampe pingsan githu?? Ibunda ini cemas nduk..” fafa hanya tersenyum melihat kekhawatiran ibundanya itu, Fafa pun meminta maaf pada Ibunda telah membuatnya cemas. Lalu dia melihat Fadil dengan keadaan khawatir. Lalu Fafa memanggilnya.

“ Akaa…..!!!!” Fadil sedikit terlihat marah karena khawatir. Fafa tau tunangannya itu sangat khawatir padanya.

“ Akaa….” Fadil pun akhirnya mendekatinya.tapi dia hanya diam. Dengan sedikit nada manja Fafa bertanya pada Fadil.

“ Akaaa….! Akaa cemaskah???” Fafa memandangi Fadil yang sedari tadi menundukkan kepalanya, dan tak mau melihat dia.

“Akaaa!!!!!” Fadil pun melihat Fafa. Terlihat air mata Fadil jatuh mengenai pipinya.

“ Iya… akaa khawatir , sangat khawatir! Makanya eneng gak boleh pingsan-pingsan lagi ya!” Fafa tersenyum melihat Fadil, orang tua Fafa pun ikut bahagia melihat kemesrahan mereka. Dzakky baru tau kalau Fafa bertunangan denagan Fadil.Dzakky pulang dalam keadaan hancur, dia tak tahu sama sekali kalau Fafa sudah bertunangan dan sebentar lagi menikah. Setelah hampir seminggu tidak masuk kuliah,akhirnya Fafa memulai kuliah lagi. Tiap harinya Fafa diantar jemput oleh Fadil. Entah mengapa Fafa tidak melihat Dzakky sama sekali. Sudah dua hari Dzakky tidak menampakkan diri di hadapan Fafa. Pulang kuliah hari ini, Fafa menunggu Fadil di depan kampus, hampir satu jam, Fadil tak juga datang dan tak ada kabar, akhirnya fafa memutuskan untuk pulang pulang sendiri.Dzakky melihati Fafa dari jauh, ketika Fafa bangun dari duduknya, dia seperti mau jatuh, Dzakky bergegas ketempat Fafa, dan menyangganya. Fafa terkejut melihat Dzakky. Dia pun tersenyum pada Dzakky.

“ Dzakky…..!!!kamu kemana aja?” Fafa menyapa temannya itu dengan sisa-sisa tenaganya.

“ Ayooo….ku antar pulang.!!!” Dengan wajah dingin Dzakky mengajak Fafa pulang, Fafa menyadari sikap dzakky yang dingin..

“ Aku pulang sendiri ja yaa..!!!” Fafa berdiri lagi dan mau beranjak pergi.

“ Aku duluan yaa, assalamu ‘alaikum…!!!!” Fafa meninggalkan Dzakky.Dengan sedikit nada keras, Dzakky memanggil fafa.

“ Faaaa!!!!!!” fafa terus saja berjalan. Dan tak menghiraukan panggilan Dzakky. “Fafaa..!!! kamu keras kepala banget sihc! Kamu itu lagi sakit, jangan keras kepala napa!” Dzakky mulai marah dengan sikap Fafa yang keras kepala. Fafa berhenti sejenak, dengan nada yang ditekan Fafa menjawab seruan Dzakky tadi. “ Aku gak kan kenapa-kenapa kok Dzak. Tenang aja. Makasih dah perhatian.” Fafa mempercepat langkahnya menuju Halte Bus. Fafa mendapat telpon dari Rumah sakit. Fafa langsung menemui dokter yang menanganinya dulu. Dokter memberikan hasil tes pada fafa, dan memberitahu kondisi Fafa. ‘Alzaimer’ itu yang dikatan dokter pada Fafa. Air mata fafa jatuh tak tertahankan.

“ penyakit ini akan membuatmu lupa pada semuanya. Pertama dia akan menggerogoti memori otakmu, lalu ia akan menggerogoti tubuhmu juga!!” Dokter itu menjelaskan semua kemungkinan yang terjadi, termasuk sisa waktu yang Fafa miliki. Fafa terdiam, dan mulai berfikir. Bukan memikirkan dirinya, melainkan memikirkan orang tuanya dan Fadil. Apa yang akan dia katakan? Apa yang harus dia lakukan?. Semua pikiran ini terlintas begitu saja dalam benak Fafa. Satu minggu setelahnya, Fafa mulai kesulitan untuk mengingat jalan rumahnya. Dia sulit mengingat angka-angka. Dan dia juga slalu lupa untuk membawa tugas kuliahnya. Fafa mulai menyadarinya, dia selalu murung di kamar, dan melupakan persiapan pernikahannya. Orang tua Fafa mulai menyadari keanehan anaknya itu. Fafa mulai murung dan jarang berbicara dengan orang tuanya lagi, ia hanya di kamar dan terus bersujud. Sampai akhirnya ibunda Fafa mendapatinya ketiduran dibawah dengan mengenakan mukena. Ibunda membangunkan Fafa dan mencoba bertanya pada Fafa. Fafa yang matanya terlihat bengkak dan wajah pucat akhirnya jujur pada ibundanya. Spontan ibunda memeluk anaknya itu,tak tertahan air matanya mendengar kenyataan bahwa putrinya satu-satunya mengidap penyakit yang mematikan “Alzaimer”.

“Yaa Robbi… kenapa harus anakku, kenapa bukan hamba saja yang Kau beri sakit ini,kenapa harus anakku!!!!” ibunda Fafa tak henti-hentinya menangis. Fafa menghapus air mata ibundanya itu.

“ Bunda…. bunda jangan menangis.!!! Adik gak mau Bunda menangis karna Fafa. Fafa gak takut mati bunda, Fafa iklas jika Tuhan memanggil Fafa.

” Ibunda Fafa semakin meneteskan air matanya, ibunda memeluk Fafa dengan erat. “ Fafa hanya sedang memikirkan kak fadil bunda! Apa yang harus adik katakan padanya. Adik gak mau menyakitinya…

” Fafa memandang ibundanya seraya mengharap keridhoaan ibundanya. “ Pernikahan ditunda saja yaa bunda!! Adik gak mau menikah dengan kak fadil.” Ibunda Fafa semakin tak bisa menahan air matanya,ayah Fafa yang tanpa sengaja mendengarkan pembicaraan mereka, langsung menghampiri mereka dan memeluk mereka.

“ Jangan Khawatir nak, kita akan lakukan pengobatan terbaik buat kamu.” Waktu itu suasana benar-benar mengharukan, tangis tak bisa tertahankan di mata mereka. Hanya seucap harap dan doa kepada Sang ilahi untuk memberikan kesembuhan buat Fafa. Matahari mulai meninggi, Fafa menata hatinya untuk bertemu Fadil. Mereka pergi kepantai berdua. Fafa tak mau menunjukkan hal yang aneh pada Fadil. Di berusaha ceria dan melupakan sejenak penyakitnya itu. Tertawa lepas seperti angin. Mereka berdua membuat patung, dan miniatur rumah di pasir. Tak terasa wakru berjalan begitu cepat. Matahari mulai tenggelam. Fafa dan Fadil duduk menikmati panorama yang begitu menakjubkan itu.

“akaa…..!” fafa melihat Fadil dengan penuh kebimbangan di hati.

“iyaaa….!” Fadil masih melihat hamparan laut dan cakrawala yang tak tampak ujungnya.

“ Pernikahan kita..ditunda aja ya!!!” Fafa menundukkan pandangannya. Fadil terkejut mendengar ucapan calon istrinya itu.

“ Neng…!!!!” fadil menatap wajah Fafa yang sedari tadi menunduk.

“ Gak apa-apakan klo ditunda??” Fafa mencoba menegakkan kepalanya.

“ Kenapa? Kenapa tiba-tiba bicara begitu?” Fadil mengalihkan pandangannya untuk menyembunyikan kekecewaannya.

“ Gak ada apa-apa kok, rasanya Eneng belum siap ja klo menikah sekarang!” “ Aku gak mau, pernikahan tidak boleh ditunda.”Fadil sedikit menekankan nadanya.

“ akaaa…!!!!”

“ enggak..” “akaa….”

“ Fa…. kamu mikir gak sich bicara kayak githu, pernikahan kita tinggal dua minggu.persiapan juga sudah selesai. Apa kata orang-orang nanti, undangan sudah kita sebar. Kamu mikir gak sihc..!” Fadil mulai berbicara keras yang membuat fafa terkejut. Dan untuk pertama kalinya Fadil memanggil dengan nama Fafa. Fafa menitiskan air matanya dihadapan Fadil. Fadil pun merasa bersalah karena telah membentak Fafa. Akhirnya Fadil menyetujui permintaan Fafa. Semua persiapan pernikahan dibatalkan, orang tua Fadil sangat terkejut mendengar keputusan mereka,tapi akhirnya mereka bisa mengerti. Dua minggu kemudian Fadil berangkat keluar negeri untuk melanjutkan study nya. Setiap bulannya Fafa mengirim surat pada Fadil. Bulan pertama,kedua mereka seperti baru jatuh cinta. tapi pada bulan ketiga, kondisi Fafa mulai memburuk. Fafa tak mengirim surat lagi. Dia sudah tak mengingat apa-apa lagi, bahkan ia juga tak mengingat Dzakky dan Fadil. Ia sudah tak bisa melakukan semua sendiri. Penyakit ini bukan hanya menggerogoti ingatan Fafa, tapi juga fisik Fafa. Fafa seperti bayi yang tak bisa apa-apa. Hari itu,entah mukjizat apa yang Tuhan berikan pada Fafa. Tiba-tiba Fafa bisa berjalan, Fafa mengingat semuanya.Fadil,Dzakky,orang tuanya,rumahnya,dan semuanya. Fafa tak henti-hentinya menangis,karena menyesal telah melupakan semuanya. Dia meminta maaf pada semua orang yang ia lupakan. Fafa pun menulis Surat pada Fadil. Dikesempatan itu, Fafa menulis surat yang banyak untuk Fadil. Ia gak mau melupakan orang yang sangat dia cintai. Fafa menitipkan surat itu pada Dzakky,agar dikirim tiap bulannya pada Fadil. Suasana makan malam itu mereka nikmati bersama. Ibunda Fafa senang melihat anaknya sudah bisa mengingat semuanya, tapi dibalik itu,ada kecemasan luar biasa dihatinya. Ternyata firasat ibunda tidak salah, setelah makan malam, Fafa pingsan dan langsung dibawa kerumah sakit. Fafa koma selama beberapa hari,dan hari ketiga, Fafa sadar, tapi itu untuk yang terakhir kalinya,fafa berbicara dengan orang tuanya. Tangis tak henti, ibunda Fafa shok melihat anaknya telah pergi meninggalkannya selamanya. Dzakky mengirimkan surat-surat itu pada Fadil seperti permintaan Fafa. Fadilpun tak mengetahui kalau Fafa sudah pergi meninggalkannya. Baru surat yang ketujuh, Fadil merasa ada yang aneh. Mendapat surat itu, Fadil langsung kembali ke Indonesia.Fadil langsung menuju ke rumah Fafa. Ibunda Fafa terkejut melihat Fadil datang, Fadil mencari Fafa. Tapi ibunda hanya diam mendengar pertanyaan Fadil yang mencari keberadaan Fafa. Fadil memaksa ibunda Fafa memberitahunya. Fadil bingung melihat ibunda fafa menangis. Lalu Fadil diajak ibunda pergi kesebuah pemakaman umum. Fadil semakin bingung. Tapi dia merasa sangat takut.

“ Bunda… ngapain kita kesini, Fadil mencari Fafa bun..kenapa bunda mengajak Fadil kesini!!” sebuah penolakan keras dalam hati Fadil. Fadil meneteskan air matanya. Ibunda Fafa semakin menangis ketika telah sampai pada makam yang bertuliskan nama Faristhatul jannah. Fadil melihat makam itu penuh denagn ketidak percayaan.

“ Bunda ayoo pergi, kita cari Fafa! Ngapain kita kesini bunda, ayoo pergi!!” Fadil menarik tangan Bunda untuk pergi dari situ.

“ Nak Fadil…..! Fafa di sini. Anak bunda sedang tidur disini.!” Ibunda menagis. Fadil tak mau percaya ini. Tapi ini kenyataan pahit yang harus dia terima. Fadil tak percaya ini terjadi, kenapa tak ada satupun yang memberi tahu ia tentang keadaan Fafa. Orang tua Fafa,orang tuanya sendiri, mereka semua bungkam. Fadil sangat menyesal, disaat masa sulit, dia tak disamping Fafa tuk mendampinginya. Betapa terpukulnya dia,ketika ia tau Fafa meninggal,dan ia tak disampingnya. Seharian Fadil di makam itu, dan tak beranjak pergi. Satu pekan Fadil di indonesia. Ia memutuskan untuk kembali ke Arab. Ia hanya membawa kenangan indahnya bersama Fafa saat Fafa masih hidup, dan cintanya untuk Fafa tak akan perlah luntur sedikitpun.

The end.

heheheheh ceritanya agak sedikit anehh..maklumm yaaa… kasih comen yaa kamsahammida…:)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s