konsep cinta dalam perspektif islam dan psikologi


BAB I

PENDAHULUAN

  1. A.      Latar belakang

Dalam setiap kehidupan manusia, pasti mengalami berbagai emosi, ada emosi benci, emosi sedih,senang dan emosi cinta. Emosi-emosi itu selalu ada dalam setiap perkembangan yang dilalui manusia. Emosi cinta apalagi. Emosi ini bahkan sudah muncul sebelum kita dilahirkan. Kita dilahirkan denga cinta, kita ada karna cinta. Ketika kita lahir,kita menangis dan orang tua kita tersenyum dan tertawa, itu adalah cinta. Hubungan ibu dan anak adalah cinta, hubungan kita dengan saudara adalah cinta, hubungan kita dengan teman adalah cinta. Begitu banyak bentuk cinta yang terapresiasikan dalam kehidupan kita. Kalau kita mendengar music hampir semua lirik lagu yang ada tentang cinta, entah itu di dalam negeri, di Korea, di Barat dan di Negara-negara lain, semua tak luput dari pembahasan cinta. Cinta dalam bahasa Inggris “love” dalam bahasa korea “sarang” dalam bahasa jepang “aesiteru”  dan dalam bahasa arabnya “mahabbah”. Cinta ini sudah menjadi unsur mutlak yang ada dalam kehidupan kita. Ibarat sebuah lukisan, cinta adalah cat nya.  Begitu sangat penting. Cinta tidak bisa diminta dengan begitu saja dan cinta juga tidak bisa ditolak dengan cara apapun. Dia dating da pergi tanpa diundang. Banyak para ahli mencoba mendefinisikan apa itu cinta. Tapi tidak ada devinisi yang pasti tentang cinta. Karena cinta sesuatu yang sulit untuk di definisikan. Sehingga pemakalah akan mengambil tema “Cinta” yang akan membahas sedikit banyaknya tentang cinta.

B.       Rumusan masalah

  1. Bagaimana konsep cinta dalam persepektif Psikologi?
  2. Bagaimana pola cinta dalam psikologi?
  3. Bagaimana peta konsep cinta dalam psikologi?
  4. Ayat apa saja yang mempresentatif tentang konsep cinta
  5. Bagaimana pola ayat tentang konsep cinta
  6. Bagaimana bentuk tabel inventarisasi ayat tentang cinta
  7. Bagaimana bentuk rumusan konstektual ayat tentang cinta
  1. C.      Tujuan
  2. Untuk mengetahui konsep cinta dalam persepektif Psikologi
  3. Untuk mengetahui ayat tentang konsep cinta
  4. Untuk mengetahui pola ayat tentang cinta
  5.  Untuk mengetahui tabel inventarisasi ayat tentang cinta
  6. Untuk mengetahui bentuk fiqih ayat tentang kosep cinta
  7. Untuk mengetahui bentuk rumusan konstektual ayat tentang cinta

BAB II

Kajian Teori Psikologi

2.1 Definisi

A. Definisi Etimologi Dan Terminologi

Etimologi

Dalam  bahasa Yunani kuno, yang membedakan antara tiga atau lebih konseperosphilia, dan agape. Cinta adalah perasaan simpati yang melibatkan emosi yang mendalam.

Terminology

Penggunaan istilah cinta dalam masyarakat Indonesia dan Malaysia lebih dipengaruhi perkataan love dalam bahasa Inggris. Love digunakan dalam semua amalan dan arti untuk eros, philia, agape dan storge. Namun demikian perkataan-perkataan yang lebih sesuai masih ditemui dalam bahasa serantau dan dijelaskan seperti berikut:

  • Cinta yang lebih cenderung kepada romantis, asmara dan hawa nafsu, eros
  • Sayang yang lebih cenderung kepada teman-teman dan keluarga, philia
  • Kasih yang lebih cenderung kepada keluarga dan Tuhan, agape
  • Semangat nusa yang lebih cenderung kepada patriotisme, nasionalisme dan narsisme, storge

 

B. Pandangan Para Pakar psikologi

  1. Abraham Maslow

Dalam teori Hierarki Maslow, cinta merupakan kebutuhan pada manusia. Dalam  teori ini cinta berarti kasih sayang dan rasa terikat ( to belong). Rasa saling menyayangi dan terikat satu sama lain, antara individu satu dengan individu lainnya. Maslow mengatakan bahwa kita semua membutuhkan rasa diingini dan diterima oleh orang lain. Ada yang memusakan kebutuhan ini melalui berteman, berkeluarga, atau berorganisasi. Tanpa ikatan ini,kita akan kesepian.( sobur,2003:277)

  1. Carl Rogers

Cinta yaitu keadaan dimengerti secara mendalam dan diterima dengan sepenuh hati. .( sobur,2003:277)

  1. Erich Fromm

Dalam bukunya The Art of loving, Erich Fromm (1983) menyatakan bahwa cinta sebagai alat untuk mengatasi keterpisahan manusia,sebagai pemenuhan kerinduan akan kesatuan.tetapi di atas kebutuhan eksistensi dan menyeluruh itu, timbul suatu kebutuhan biologis, yang lebih spesifik yaitu keinginan untuk menyatu antara kutub-kutub jantan dan betina. Ide pengutupan ini diungkapkan dengan adanya mitos bahwa pada mulanya laki-laki dan wanita adalah satu, kemudian mereka dipisahkan menjadi setengah setengah dan sejak itu sampai seterusnya, setiap laki-laki terus mencari belahan wanita yang hilang dari dirinya untuk bersatu kembali dengannya.(sobur,2003:419)

Menurut Erich Fromm, ada empat syarat untuk mewujudkan cinta kasih, yaitu:

  • Perasaan
  • Pengenalan
  • Tanggung jawab
  • Perhatian
  • Saling menghormati

Erich Fromm dalam buku larisnya (the art of loving) menyatakan bahwa ke empat gejala: Care, Responsibility, Respect, Knowledge (CRRK), muncul semua secara seimbang dalam pribadi yang mencintai. Omong kosong jika seseorang mengatakan mencintai anak tetapi tak pernah mengasuh dan tak ada tanggungjawab pada si anak. Sementara tanggungjawab dan pengasuhan tanpa rasa hormat sesungguhnya & tanpa rasa ingin mengenal lebih dalam akan menjerumuskan para orang tua, guru, rohaniwan dll pada sikap otoriter.

  1.  Lie Pok Liem (dalam Sobur,1998)

Cinta kasih adalah ibarat fundamental pendidikan secara keseluruhan. Tanpa curahan kasih saying, pendidikan yang ideal tidak munkin bisa dijalankan. Pendidikan tanpa cinta akan terasa kering dan bahkan tidak menarik.

  1.  Erich H. Ericson

Dalam Fase perkembangan Erikson, cinta adalah kesetian yang masak sebagai dampak dari perbedaan dasar antara pria dan wanita. Cinta disamping bermuatan intimasi juga membutuhkan sedikit isolasi karena masing-masing parnert tetap boleh memiliki identitas yang terpisah.( Alwisol,2009:101)

Wajah Cinta

Cinta mengacu pada perilaku manusia yang sangat luas dan komplek. Bagaimana kita dapat mengklasifikasikan dan mempelajari fenomena yang luas dan kompleks seperti cinta. Kalsifikasi yang umum menggambarkan empat bentuk cinta, yaitu:

a)    Altruisme

Hubungan cinta yang saling tolong-menolong.

b)   Persahabatan

Persahabatan adalah bentuk hubungan dekat yang melibatkan kenikmatan (kita suka menghabiskan waktu bersama sahabat kita), penerimaan ( kita menerima teman kita tanpa mencoba mengubahnya), kepercayaan ( kita menganggap seorang teman akan bertindak untuk kepentingan kita yang paling baik), hormat  ( kita berpikir teman kita membuat keputusan yang baik), saling menolong (kita menolong dan mendukung teman kita dan sebaliknya), menceritakan rahasia ( kita berbagi pengalaman dan hal-hal yang rahasia dengan seorang teman), mengerti ( kita merasa seorang teman sangat memahami kita dan memahami apa yang kita suka), dan spontanitas ( kita merasa bebas untuk menjadi diri sendiri di depan seorang teman). ( Davis, 1985).

Ada perbedaan antara persahabatan dan cinta, perbedaan itu bisa dilihat pada skala menyukai dan mencintai. Menyukai berarti menyadari bahwa orang lain  sama dengan kita. Mencintai, ia percaya , melibatkan kedekatan denagn seseorang; ketergantungan, tidak berorintasi pada diri sendiri, dan kualitas dari penerimaan dan eksklusivitas.

c)    Cinta yang romantic atau bergairah

Cinta yang romantic juga disebut cinta yang bergairah atau eros. Cinta ini memiliki elemen seksual dan kekanak-kanakan dan sering kali di dominasi bagian awal suatu hubungan cinta.

d)   Cinta yang penuh efeksi atau kebersamaan

Cinta ini lebih dari sekedar gairah. Cinta yang penuh efek juga disebut cinta yang penuh kebersamaan.adalah tipe cinta yang terjadi ketika hasrat individu untuk berada dekat denagn orang lain dan melibatkan perasaan yang dalam dan saying terhadap orang tersebut.

Menurt Teori cinta Triguler Ada tiga aspek dalam cinta,yaitu:

  1. Gairah
  2. Keintimanan

Hal-hal yang mencerminkan perasaan kedekatan dan terikat. Adanya keterikatan batin.

  1. Komitmen

Jika semua aspek ini terpenuhi, maka itu adalah cinta yang sempurna. Sebuah cinta yang tidak mempunyai komitmen, maka cinta itu hanya main-main ( cinta tidak dewasa). Jika cinta hanya memiliki komitmen tanpa adanya gairah dan kedekatan batin maka itu disebut empy love (cinta kosong). Cinta yang hanya ada komitmen dan gairah tanpa adanya kedekatan emosi maka itu disebut fertus love (cinta konyol).

Cinta itu semakin dicari, maka semakin tidak ditemukan. Cinta adanya di dalam lubuk hati, ketika dapat menahan keinginan dan harapan yang lebih. Ketika pengharapan dan keinginan yang berlebih akan cinta, maka yang didapat adalah kehampaan. tiada sesuatupun yang didapat, dan tidak dapat dimundurkan kembali. Waktu dan masa tidak dapat diputar mundur. Terimalah cinta apa adanya.

Perkawinan adalah kelanjutan dari Cinta. Adalah proses mendapatkan kesempatan, ketika kamu mencari yang terbaik diantara pilihan yang ada, maka akan mengurangi kesempatan untuk mendapatkannya, Ketika kesempurnaan ingin kau dapatkan, maka sia2lah waktumu dalam mendapatkanKata kunci: perkembangan cinta

Dalam bahasa Yunani ada beberapa kata yang digunakan untuk melukiskan makna cinta. Bahasa Yunani menyoroti cinta secara lebih spesifik dengan lebih tajam, oleh karena itulah ketiga jenis kata yang digunakan ini dapat kita kaitkan dengan perkembangan cinta di dalam keluarga. Ada beberapa yang kita akan bahas adalah:

  1. Kasih Eros, dari kata eros muncullah kata erotik. Jadi kata eros itu sendiri berarti sebetulnya kasih yang didasari atas ketertarikan jasmaniah secara fisik. Juga saya gunakan istilah ini adalah cinta yang lebih ke arah saya sendiri secara pribadi, jadi cinta ini cinta searah, namun arahnya adalah dari orang kepada kita karena orang memberikan sesuatu yang kita inginkan atau menyenangkan hati kita. Boleh juga digunakan istilah cinta terpesona, benar-benar kita rasanya terpesona dengan penampakannya, kehadirannya. Unsur eros ini adalah unsur yang juga penting dalam pernikahan. Dengan kata lain tanpa adanya unsur eros cinta itu juga akan kehilangan unsur ‘passion’ yaitu suatu ketertarikan suatu pendambaan yang kuat. Suatu hasrat, keinginan untuk intim.
  2. Tahap Phileo, dalam bahasa Yunani kata phileo berarti kawan, persahabatan. Phileo ini adalah kasih persahabatan jadi pada tahap ini relasi diikat oleh kecocokan, berbeda dengan eros di mana relasi diikat oleh ketertarikan. Dengan kata lain kita bergerak meninggalkan eros yang bersifat jasmani masuk ke dalam relasi yang lebih bersifat non-jasmaniah, kecocokan sifatnya, karateristiknya, kesamaan berpikir, bisa mengerti kita, kita bisa mengertinya. Kalau saya boleh intisarikan cinta phileo adalah cinta yang berkata: aku senang bersamamu, sebab kita sepadan. Phileo akan menempati porsi yang besar dalam pernikahan misalkan 2, 3 tahun pertama adalah porsi eros boleh dikata setelah sampai 40 tahun yang akan mengikat kedua orang ini adalah phileo, persahabatan.
  3. Tahap Agape, inilah puncaknya dan sudah tentu tahapan ini tidak berarti hanya bisa ada di akhir pernikahan kita. Kasih agape, kasih searah sama seperti eros namun bedanya arahnya itu terbalik. Kalau eros arahnya dari dia kepadaku, kasih agape adalah arahnya dari aku kepada dia, kepada pasangan kita. Inilah kasih yang kita sebut kasih tanpa kondisi, sifat utamanya adalah memberi tanpa menghiraukan respons penerimanya.

BAB III

1)        Telaah teks Al-Qur’an tentang tema

Ar rum :21

Ali Imron:14

Maryam:96

Faatir :11

Al Qiyamah 39

al Ankabut:5

An-Nisa :3

An-Nisa :19

Terjemahan

  • “ Dan diantara tanda-tanda kekuasaanNya ialah ia menciptakan untukmu dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung merasa tentram kepadanya, dan dijadikanNya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir.” ( Ar rum:21)
  • Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).(Ali Imron:14)
  • Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh, kelak Allah Yang Maha Pemurahakan menanamkan dalam (hati) mereka rasa kasih sayang.( Maryam:96)
  • Dan Allah menciptakan kamu dari tanah kemudian dari air mani, kemudian Dia menjadikan kamu berpasangan (laki-laki dan perempuan). Dan tidak ada seorang perempuanpun mengandung dan tidak (pula) melahirkan melainkan dengan sepengetahuan-Nya. Dan sekali-kali tidak dipanjangkan umur seorang yang berumur panjang dan tidak pula dikurangi umurnya, melainkan (sudah ditetapkan) dalam Kitab (Lauh Mahfuzh). Sesungguhnya yang demikian itu bagi Allah adalah mudah. (fatir :11)
  • lalu Allah menjadikan dari padanya sepasang:  laki-laki dan perempuan. (Al Qiyamah 3)
  • Barangsiapa yang mengharap pertemuan dengan Allah, maka sesungguhnya waktu (yang dijanjikan) Allah itu, pasti datang. Dan Dialah Yang Maha mendengar lagi Maha Mengetahui.(al Ankabut:5)
  • Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yang yatim (bilamana kamu mengawininya), maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi : dua, tiga atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil , maka (kawinilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya.(An-Nisa :3)
  • Hai orang-orang yang beriman, tidak halal bagi kamu mempusakai wanita dengan jalan paksa dan janganlah kamu menyusahkan mereka karena hendak mengambil kembali sebagian dari apa yang telah kamu berikan kepadanya, terkecuali bila mereka melakukan pekerjaan keji yang nyata. Dan bergaullah dengan mereka secara patut. Kemudian bila kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak.(An-Nisa :19)
  1. Definisi

Kata cinta dalam Al Qur’an disebut Hubb (mahabbah) dan Wudda (mawaddah), keduanya memiliki arti yang sama yaitu menyukai, senang, menyayangi.

Dalam fil gharibil Qur’an dijelaskan bahwa hubb sebuah cinta yang meluap-luap, bergejolak. Sedangkan Wudda adalah cinta yang berupa angan-angan dan tidak akan terraih oleh manusia kecuali Allah menghendakinya, hanya Allah yang akan memberi cinta Nya kepada hamba yang dkehendakiNya. Allah yang akan mempersatukan hati mereka. Walaupun kamu belanjakan seluruh kekayaan yang ada di bumi, niscaya kamu tidak akan mendapatkan kebahagiaan cinta jika Allah tidak menghendakiNya. Oleh karena itu terraihnya cinta-wudda pada satu pasangan itu karena kualitas keimanan ruhani pasangan tersebut. Semakin ia mendekatkan diri kepada sang Maha Pemilik Cinta maka akan semakin besarlah wudda yang Allah berikan pada pasangan tersebut.Cinta inilah yang tidak akan luntur sampai di hari akhir nanti sekalipun maut memisahkannya, cinta yang atas nama Allah, mencintai sesuatu atau seseorang demi dan untuk Allah.

Menurut hadis Nabi, orang yang sedang jatuh cinta cenderung selalu mengingat dan menyebut orang yang dicintainya (man ahabba syai’an katsura dzikruhu), kata Nabi, orang juga bisa diperbudak oleh cintanya (man ahabba syai’an fa huwa `abduhu). Kata Nabi juga, ciri dari cinta sejati ada tiga : (1) lebih suka berbicara dengan yang dicintai dibanding dengan yang lain, (2) lebih suka berkumpul dengan yang dicintai dibanding dengan yang lain, dan (3) lebih suka mengikuti kemauan yang dicintai dibanding kemauan orang lain/diri sendiri. Bagi orang yang telah jatuh cinta kepada Alloh SWT, maka ia lebih suka berbicara dengan Alloh Swt, dengan membaca firman Nya, lebih suka bercengkerama dengan Alloh SWT dalam I`tikaf, dan lebih suka mengikuti perintah Alloh SWT daripada perintah yang lain.

Dalam Qur’an cinta memiliki 8 pengertian berikut ini penjelasannya:

  1. Cinta mawaddah adalah jenis cinta mengebu-gebu, membara dan “nggemesi”. Orang yang memiliki cinta jenis mawaddah, maunya selalu berdua, enggan berpisah dan selalu ingin memuaskan dahaga cintanya. Ia ingin memonopoli cintanya, dan hampir tak bisa berfikir lain.
  2. Cinta rahmah adalah jenis cinta yang penuh kasih sayang, lembut,siap berkorban, dan siap melindungi. Orang yang memiliki cinta jenis rahmah ini lebih memperhatikan orang yang dicintainya dibanding
    terhadap diri sendiri. Baginya yang penting adalah kebahagiaan sang
    kekasih meski untuk itu ia harus menderita. Ia sangat memaklumi
    kekurangan kekasihnya dan selalu memaafkan kesalahan kekasihnya.
    Termasuk dalam cinta rahmah adalah cinta antar orang yang bertalian
    darah, terutama cinta orang tua terhadap anaknya, dan sebaliknya. Dari
    itu maka dalam al Qur’an , kerabat disebut al arham, dzawi al arham ,
    yakni orang-orang yang memiliki hubungan kasih sayang secara fitri,
    yang berasal dari garba kasih sayang ibu, disebut rahim (dari kata
    rahmah). Sejak janin seorang anak sudah diliputi oleh suasana
    psikologis kasih sayang dalam satu ruang yang disebut rahim.
    Selanjutnya diantara orang-orang yang memiliki hubungan darah
    dianjurkan untuk selalu ber silaturrahim, atau silaturrahmi artinya
    menyambung tali kasih sayang. Suami isteri yang diikat oleh cinta
    mawaddah dan rahmah sekaligus biasanya saling setia lahir batin-dunia
    akhirat.
  3. Cinta mail, adalah jenis cinta yang untuk sementara sangat membara,
    sehingga menyedot seluruh perhatian hingga hal-hal lain cenderung
    kurang diperhatikan. Cinta jenis mail ini dalam al Qur’an disebut
    dalam konteks orang poligami dimana ketika sedang jatuh cinta kepada
    yang muda (an tamilu kulla al mail), cenderung mengabaikan kepada yang
    lama.
  4. Cinta syaghaf. Adalah cinta yang sangat mendalam, alami, orisinil
    dan memabukkan. Orang yang terserang cinta jenis syaghaf (qad
    syaghafaha hubba) bisa seperti orang gila, lupa diri dan hampir-hampir
    tak menyadari apa yang dilakukan. Al Qur’an menggunakan term syaghaf
    ketika mengkisahkan bagaimana cintanya Zulaikha, istri pembesar Mesir
    kepada bujangnya, Yusuf.
  5. Cinta ra’fah, yaitu rasa kasih yang dalam hingga mengalahkan
    norma-norma kebenaran, misalnya kasihan kepada anak sehingga tidak
    tega membangunkannya untuk salat, membelanya meskipun salah. Al Qur’an menyebut term ini ketika mengingatkan agar janganlah cinta ra`fah
    menyebabkan orang tidak menegakkan hukum Allah, dalam hal ini kasus
    hukuman bagi pezina (Q/24:2)
  6. Cinta shobwah, yaitu cinta buta, cinta yang mendorong perilaku
    penyimpang tanpa sanggup mengelak. Al Qur’an menyebut term ni ketika
    mengkisahkan bagaimana Nabi Yusuf berdoa agar dipisahkan dengan
    Zulaiha yang setiap hari menggodanya (mohon dimasukkan penjara saja),
    sebab jika tidak, lama kelamaan Yusuf tergelincir juga dalam perbuatan
    bodoh, wa illa tashrif `anni kaidahunna ashbu ilaihinna wa akun min al
    jahilin (Q/12:33)
  7. Cinta syauq (rindu). Term ini bukan dari al Qur’an tetapi dari
    hadis yang menafsirkan al Qur’an. Dalam surat al `Ankabut ayat 5
    dikatakan bahwa barangsiapa rindu berjumpa Allah pasti waktunya akan
    tiba. Kalimat kerinduan ini kemudian diungkapkan dalam doa ma’tsur
    dari hadis riwayat Ahmad; wa as’aluka ladzzata an nadzori ila wajhika
    wa as syauqa ila liqa’ika, aku mohon dapat merasakan nikmatnya
    memandang wajah Mu dan nikmatnya kerinduan untuk berjumpa dengan Mu.
    Menurut Ibn al Qayyim al Jauzi dalam kitab Raudlat al Muhibbin wa
    Nuzhat al Musytaqin, Syauq (rindu) adalah pengembaraan hati kepada
    sang kekasih (safar al qalb ila al mahbub), dan kobaran cinta yang
    apinya berada di dalam hati sang pecinta, hurqat al mahabbah wa il
    tihab naruha fi qalb al muhibb
  8. Cinta kulfah. yakni perasaan cinta yang disertai kesadaran mendidik
    kepada hal-hal yang positip meski sulit, seperti orang tua yang
    menyuruh anaknya menyapu, membersihkan kamar sendiri, meski ada
    pembantu. Jenis cinta ini disebut al Qur’an ketika menyatakan bahwa
    Allah tidak membebani seseorang kecuali sesuai dengan kemampuannya, la yukallifullah nafsan illa wus`aha (Q/2:286)

B. Dasar-Dasar Ajaran Mahabbah

1.  Dasar Syara’

Ajaran mahabbah memiliki dasar dan landasan, baik di dalam Alquran maupun Sunah Nabi SAW.  Hal ini juga menunjukkan bahwa ajaran tentang cinta khususnya dan tasawuf umumnya, dalam Islam tidaklah mengadopsi dari unsur-unsur kebudayaan asing atau agama lain seperti yang sering ditudingkan oleh kalangan orientalis.Dalil-dalil dalam al-Qur’an, misalnya sebagai berikut:

  1. QS. Al-Baqarah ayat 165

Dan di antara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman, sangat besar cinta mereka kepada Allah. Dan jika seandainya orang-orang yang berbuat zalim itu mengetahui ketika mereka melihat siksa (pada hari kiamat), bahwa kekuatan itu kepunyaan Allah semuanya, dan bahwa Allah amat berat siksaan-Nya (niscaya mereka menyesal).

 

  1. QS. Al-Maidah ayat 54

Hai orang-orang yang beriman, barang siapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad di jalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha luas (pemberian-Nya), lagi Maha Mengetahui.

 

  1. QS. Ali Imran ayat 31

Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintai dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Dalil-dalil dalam hadis Nabi Muhammad SAW, misalnya sebagai berikut:

ثَلَاثٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ وَجَدَ حَلَاوَةَ اْلإِيمَانِ أَنْ يَكُونَ اللهُ وَرَسُولُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَاوَأَنْ يُحِبَّ الْمَرْءَ لاَ يُحِبُّهُ إِلاَّ ِللهِ وَأَنْ يَكْرَهَ أَنْ يَعُودَ فِي الْكُفْرِ كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يُقْذَفَفِي النَّارِ

Tiga hal yang barang siapa mampu melakukannya, maka ia akan merasakan manisnya iman, yaitu: pertama Allah dan Rasul-Nya lebih ia cintai daripada selain keduanya; kedua: tidak mencintai seseorang kecuali hanya karena Allah; ketiga benci kembali kepada kekafiran sebagaimana ia benci dilemparkan ke neraka.

 

….. وَمَا يَزَالُ عَبْدِي يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ فَإِذَا أَحْبَبْتُهُ كُنْتُ سَمْعَهُالَّذِي يَسْمَعُ بِهِ وَبَصَرَهُ الَّذِي يُبْصِرُ بِهِ وَيَدَهُ الَّتِي يَبْطِشُ بِهَا وَرِجْلَهُ الَّتِي يَمْشِي بِهَا…

….Tidaklah seorang hamba-Ku senantiasa mendekati-Ku dengan ibadah-ibadah sunah kecuali Aku akan mencintainya. Jika Aku mencintainya, maka Aku pun menjadi pendengarannya yang ia gunakan untuk mendengar; menjadi penglihatannya yang ia gunakan untuk melihat; menjadi tangannya yang ia gunakan untuk memukul; dan menjadi kakinya yang ia gunakan untuk berjalan.

لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَلَدِهِ وَوَالِدِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِين

Tidak beriman seseorang dari kalian sehingga aku lebih dicintainya daripada anaknya, orang tuanya, dan seluruh manusia.

 

2. Dasar Filosofis

Dalam mengelaborasi dasar-dasar filosofis ajaran tentang cinta(mahabbah) ini, al-Ghazali merupakan ulama tasawuf yang pernah melakukannya dengan cukup bagus. Menurut beliau, ada tiga hal yang mendasari tumbuhnya cinta dan bagaimana kualitasnya, yaitu sebagai berikut:

  • Cinta tidak akan terjadi tanpa proses pengenalan (ma’rifat) dan pengetahuan (idrak)

Manusia hanya akan mencintai sesuatu atau seseorang yang telah ia kenal. Karena itulah, benda mati tidak memiliki rasa cinta. Dengan kata lain, cinta merupakan salah satu keistimewaan makhluk hidup. Jika sesuatu atau seseorang telah dikenal dan diketahui dengan jelas oleh seorang manusia, lantas sesuatu itu menimbulkan kenikmatan dan kebahagiaan bagi dirinya, maka akhirnya akan timbul rasa cinta. Jika sebaliknya, sesuatu atau seseorang itu menimbulkan kesengsaraan dan penderitaan, maka tentu ia akan dibenci oleh manusia.

  • Cinta terwujud sesuai dengan tingkat pengenalan dan pengetahuan

Semakin intens pengenalan dan semakin dalam pengetahuan seseorang terhadap suatu obyek, maka semakin besar peluang obyek itu untuk dicintai. Selanjutnya, jika semakin besar kenikmatan dan kebahagiaan yang diperoleh dari obyek yang dicintai, maka semakin besar pula cinta terhadap obyek yang dicintai tersebut.Kenikmatan dan kebahagiaan itu bisa dirasakan manusia melalui pancaindranya. Kenikmatan dan kebahagiaan seperti ini juga dirasakan oleh binatang. Namun ada lagi kenikmatan dan kebahagiaan yang dirasakan bukan melalui pancaindra, namun melalui mata hati. Kenikmatan rohaniah seperti inilah yang jauh lebih kuat daripada kenikmatan lahiriah yang dirasakan oleh pancaindra. Dalam konteks inilah, cinta terhadap Tuhan terwujud.

  • Manusia tentu mencintai dirinya

Hal pertama yang dicintai oleh makhluk hidup adalah dirinya sendiri dan eksistensi dirinya. Cinta kepada diri sendiri berarti kecenderungan jiwa untuk mempertahankan kelangsungan hidupnya dan menghindari hal-hal yang bisa menghancurkan dan membinasakan kelangsungan hidupnya.Selanjutnya al-Ghazali juga menguraikan lebih jauh tentang hal-hal yang menyebabkan tumbuhnya cinta. Pada gilirannya, sebab-sebab tersebut akan mengantarkan seseorang kepada cinta sejati, yaitu cinta kepada Tuhan Yang Maha Mencintai. Sebab-sebab itu adalah sebagai berikut:

  • Cinta kepada diri sendiri, kekekalan, kesempurnaan, dan keberlangsungan hidup

Orang yang mengenal diri dan Tuhannya tentu ia pun mengenal bahwa sesungguhnya ia tidak memiliki diri pribadinya. Eksistensi dan kesempurnaan dirinya adalah tergantung kepada Tuhan yang menciptakannya. Jika seseorang mencintai dirinya dan kelangsungan hidupnya, kemudian menyadari bahwa diri dan hidupnya dihasilkan oleh pihak lain, maka tak pelak ia pun akan mencintai pihak lain tersebut. Saat ia mengenal bahwa pihak lain itu adalah Tuhan Yang Maha Pencipta, maka cinta kepada Tuhan pun akan tumbuh. Semakin dalam ia mengenal  Tuhannya, maka semakin dalam pula cintanya kepada Tuhan.

  • Cinta kepada orang yang berbuat baik

Pada galibnya, setiap orang yang berbuat tentu akan disukai oleh orang lain. Hal ini merupakan watak alamiah manusia untuk menyukai kebaikan dan membenci kejahatan. Namun pada dataran manusia dan makhluk umumnya, pada hakikatnya kebaikan adalah sesuatu yang nisbi. Karena sesungguhnya, setiap kebaikan yang dilaksanakan oleh seseorang hanyalah sekedar menggerakkan motif tertentu, baik motif duniawi maupun motif ukhrawi. Untuk motif duniawi, hal itu adalah jelas bahwa kebaikan yang dilakukan tidaklah ikhlas. Namun untuk motif ukhrawi, maka kebaikan yang dilakukan juga tidak ikhlas, karena masih mengharapkan pahala, surga, dan seterusnya. Pada hakikatnya, ketika seseorang memiliki motif ukhrawi atau agama, maka hal itu juga akan mengantarkan kepada pemahaman bahwa Allah jugalah yang berkuasa menanamkan ketaatan dan pengertian dalam diri dan hatinya untuk melakukan kebaikan sebagaimana yang Allah perintahkan. Dengan kata lain, orang yang berbuat baik tersebut pada hakikatnya juga terpaksa, bukan betul-betul mandiri, karena masih berdasarkan perintah Allah.

Ketika kesadaran bahwa semua kebaikan berujung kepada Allah, maka cinta kepada kebaikan pun berujung kepada Allah. Hanya Allah yang memberikan kebaikan kepada makhluk-Nya tanpa pamrih apapun. Allah berbuat baik kepada makhluk-Nya bukan agar Ia disembah. Allah Maha Kuasa dan Maha Suci dari berbagai pamrih. Bahkan meskipun seluruh makhluk menentang-Nya, kebaikan Allah kepada para makhluk tetap diberikan. Kebaikan-kebaikan Allah kepada makhluk-Nya itu sangat banyak dan tidak akan mampu oleh siapa pun. Karena itulah, pada gilirannya bagi orang yang betul-betul arif, akan timbul cinta kepada Allah sebagai Dzat Yang Maha Baik, yang memberikan berbagai kebaikan dan kenikmatan yang tak terhitung jumlahnya.

  • Mencintai diri orang yang berbuat baik meskipun kebaikannya tidak dirasakan

Mencintai kebaikan per se juga merupakan watak dasar manusia. Ketika seseorang mengetahui bahwa ada orang yang berbuat baik, maka ia pun akan menyukai orang yang berbuat baik tersebut, meskipun kebaikannya tidak dirasakannya langsung. Seorang penguasa yang baik dan adil, tentu akan disukai rakyatnya, meskipun si rakyat jelata tidak pernah menerima langsung kebaikan sang penguasa. Sebaiknya, seorang pejabat yang lalim dan korup, tentu akan dibenci oleh rakyat, meski sang rakyat tidak mengalami langsung kelaliman dan korupsi sang pejabat. Hal ini pun pada gilirannya akan mengantar kepada cinta terhadap Allah. Karena bagaimanapun, hanya karena kebaikan Allah tercipta alam semesta ini. Meski seseorang mungkin tidak langsung merasakannya, kebaikan Allah yang menciptakan seluruh alam semesta ini menunjukkan bahwa Allah memang pantas untuk dicintai. Kebaikan Allah yang menciptakan artis Dian Sastrowardoyo nan cantik jelita namun tinggal di Jakarta, misalnya, adalah kebaikan yang tidak langsung dirasakan seorang Iwan Misbah yang tinggal nun jauh di Ciwidey.

  • Cinta kepada setiap keindahan

Segala yang indah tentu disukai, baik yang bersifat lahiriah maupun batiniah. Lagu yang indah dirasakan oleh telinga. Wajah yang cantik diserap oleh mata. Namun keindahan sifat dan perilaku serta kedalaman ilmu, juga membuat seorang Imam Syafi’i, misalnya, dicintai oleh banyak orang. Meskipun mereka tidak tahu apakah wajah dan penampilan Imam Syafi’i betul-betul menarik atau tidak. Keindahan yang terakhir inilah yang merupakan keindahan batiniah. Keindahan yang bersifat batiniah inilah yang lebih kuat daripada keindahan yang bersifat lahiriah. Keindahan fisik dan lahiriah bisa rusak dan sirna, namun keindahan batiniah relatif lebih kekal.Pada gilirannya, segala keindahan itu pun akan berujung pada keindahan Tuhan yang sempurna. Namun keindahan Tuhan adalah keindahan rohaniah yang hanya dapat dirasakan oleh mata hati dan cahaya batin. Orang yang betul-betul menyadari betapa Tuhan Maha Mengetahui, Maha Kuasa, dan segala sifat kesempurnaan melekat dalam Zat-Nya, maka tak ayal ia pun akan menyadari betapa indahnya Tuhan, sehingga sangat pantas Tuhan untuk dicintai.

  • Kesesuaian dan keserasian

Jika sesuatu menyerupai sesuatu yang lain, maka akan timbul ketertarikan antara keduanya. Seorang anak kecil cenderung lebih bisa akrab bergaul dengan sesama anak kecil. Seorang dosen tentu akan mudah berteman dengan sesama dosen daripada dengan seorang tukang becak. Ketika dua orang sudah saling mengenal dengan baik, maka tentu terdapat kesesuaian antara keduanya. Berangkat dari kesesuaian dan keserasian inilah akhirnya muncul cinta. Sebaliknya, jika dua orang tidak saling mengenal, kemungkinan besar karena memang terdapat perbedaan dan ketidakcocokan antara keduanya. Karena ketidakcocokan dan perbedaan pula akan muncul tidak suka atau bahkan benci. Dalam konteks kesesuaian dan keserasian inilah, cinta kepada Tuhan akan muncul. Meski demikian, kesesuaian yang dimaksud ini bukanlah bersifat lahiriah seperti yang diuraikan di atas, namun kesesuaian batiniah. Sebagian hal tentang kesesuaian batiniah ini merupakan misteri dalam dunia tasawuf yang menurut al-Ghazali tidak boleh diungkapkan secara terbuka. Sedangkan sebagian lagi boleh diungkapkan, seperti bahwa seorang hamba boleh mendekatkan diri kepada Tuhan dengan meniru sifat-sifat Tuhan yang mulia, misalnya ilmu, kebenaran, kebaikan, dan lain-lain. Terkait dengan sebab keserasian dan kecocokan ini, satu hal yang perlu digarisbawahi adalah bahwa Allah tidak akan pernah ada yang mampu menandingi atau menyerupainya. Keserasian yang terdapat dalam jiwa orang-orang tertentu yang dipilih oleh Allah, sehingga ia mampu mencintai Allah dengan sepenuh hati, hanyalah dalam arti metaforis (majazi). Keserasian tersebut adalah wilayah misteri yang hanya diketahui oleh orang-orang yang betul-betul mengalami cinta ilahiah.

  1. B.     Inventarisasi ayat dan Tabulasi

No

Term  / konsep

Kategori

Teks

Makna

Substansi

Sumber

Jumlah

1

pelaku

Laki-laki

Laki-laki

3:195,4:34,6:7,16:97,23:28,34:7,39:29, 72:6

9

Laki-laki

75:39

wanita

wanita

2:221,3:14, 2:235, 4:3, 4:4, 4:19, 4:22, 4:24, 4:25, 4:34,5:5,

13

wanita

53:45

2

perasaan

Cinta

sayang

13:110, 49:7,56:37

5

Kasih

30:21

kecintaan

3:14

3

Proses

pernikahan

menikahi

2:221,4:22 ,4:23,25:54, 33:49, 60:10

6

4

tujuan

bahagia

tenteram

30:21,

1

Berdasarkan tabulasi di atas dapat dijabarkan hubungan antara berapa ayat dalam Al-Qur’an dengan cinta dan pernikahan. Dalam konsep pertama disebutkan laki-laki. Dari beberapa ayat yang memiliki makna laki-laki dalam konsep pertama  diantaranya adalah, dalam surat Al Qiyamah ayat 39:

Ayat di atas menerangkan bahwa Allah telah menciptakan makhluknya secara berpasangan. Setiap laki-laki memiliki perempuan sebagai pasangan atau jodohnya. Dan hal itu sudah di pastikan oleh Allah atau sudah menjadi takdir yang pasti.

Pada konsep yang kedua adalah perasaan cinta, Bagi kategori cinta diterangkan dalam surah Ali Imron:14: Dalam ayat ini Hubb adalah suatu naluri yang dimiliki setiap manusia tanpa kecuali baik manusia beriman maupun manusia durjana.

Maryam :96 Adapun Wudda dalam QS Maryam : 96 “ Sesungguhnya orang-orang beriman dan beramal sholeh, kelak Allah yang maha pemurah akan menanamkan dalam hati mereka kasih sayang ” jadi Wudda (kasih sayang) diberikan Allah sebagai hadiah atas keimanan, amal sholeh manusia.

Konsep yang ketiga yaitu mengenai pernikahan. Kategori ini dapat dijelaskan dengan surah Al Baqaroh ayat 212:dalam ayat ini dijelaskan bahwa hendaknya kita menikah dengan seseorang yang seiman,dan melarang untuk menikahi seseorang  yang musrik. lebih baik menikahi seorang buadak dari pada

Konsep yang keempat yaitu mengenai tujuan.tujuan dari adanya cinta dan pernikahan adalah mencari kebahagian, ketentraman dan kenyamanan. Kategori ini dapat dijelaskan dengan surah Ar-Rumm ayat 21:

QS Ar Rum : 21 “ Dan diantara tanda-tanda kekuasaanNya ialah ia menciptakan untukmu dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung merasa tentram kepadanya, dan dijadikanNya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir.”

Dalam ayat ini Allah menggambarkan ‘cenderung dan tentram’ yang dapat diraih dengan pernikahan oleh masing-masing pasangan akan diberi hadiah (ja’ala) kasih sayang dan rahmat.

BAB IV

ANALISIS PERBANDINGAN ANTARA PERSPEKTIF AL-QURAN DENGAN PSIKOLOGI

  • Perspektif  Al Qur’an
No. Term Kategori Substansi Keterangan
1 Pelaku Laki-laki Pribadi Ar rijal menunjuk pada seorang laki-laki dewasa
wanita pribadi Annisa menunjuk pada seorang wanita dewasa
2 Bentuk emosi Cinta hubungan Hubb adalah suatu naluri yang dimiliki setiap manusia tanpa kecuali baik manusia beriman maupun manusia durjana
3 hasil Pernikahan Empati/Simpati,cinta Perwujutan dari cinta yang sudah memiliki satu sama lain secara resmi dan sah dalam agama
4 Tujuan Kebahagiaan Tenteram Perasaan tenteram karena sudah bersama orang yang dicintai
Kasih sayang Perasaan kasih saying kepada pasangan
nyaman Perasaan nyaman karena sudah mempunyai pelindung sejati
  • Perspektif Psikologi
No. Term Kategori Substansi Keterangan
1 Pelaku Laki-laki Pribadi Seorang laki-laki
wanita pribadi Seorang wanita
2 Bentuk emosi Cinta hubungan cinta berarti kasih sayang dan rasa terikat ( to belong). Rasa saling menyayangi dan terikat satu sama lain, antara individu satu dengan individu lainnya.
3 aspek GairahKeintiman

komitmen

Tiga aspek yang sangat penting dalam cinta.
4 hasil Hidup bersama/pernikahan Pernikahan adalah aplikasi dari  cinta yang sempurn

BAB V

PENUTUP

1. Rumusan konseptual tentang inta dari perspektif Islam dan Psikologi  :

Dari perspektif Islam Ternyata ada 4 yaitu Pelaku, perasaan, proses, dan tujuan. Sedangkan dari perspektif psikologi, termnya ada 4 juga yaitu pelaku, perasaan(cinta), aspek dan proses (pernikahan)

Dalam cinta selalu ada rasa keterikatan antara satu individu dengan individu lain. Yang akan terjadi adalah adanya simbiosis mutualismedi mana individu yang menjalin hubungan cinta saling diunutungkan,entah secara materi atau secara psikis. Dalam psikologi cinta memiliki tiga aspek yang membentuk cinta itu sendiri. Sedang dalam Alquran disebutkan betapa indahnya cinta itu.namun harus sesuai aturan atau norma agama.

Jika dilihat dari kedua perspektif tersebut, maka dari perspektif psikologi termnya lebih lengkap daripada perspektif Al-Qur’an. Tapi, jika dari kedua perspektif di atas dikorelasikan maka konsep cinta menjadi lebih baik. Contohnya jika dilihat dari perspektif Al-Qur’an adalah dengan tetap memperhatikan aturan  yang telah ditentukan oleh agama yang berupa perintah dan larangan.kita bisa terhindar dari kerugian-kerugian di dunia ini.

2. Rekomendasi

Dari pemaparan di atas mungkin hanya sebagian kecilnya saja yang dibahas dan masih perlu dikaji lebih lanjut tentang jual beli ditinjau dari perspektif psikologi dan Al-Qur’an.

Baiknya untuk para pelajar agar selalu mengkorelasikan antara sisi psiologis dalam persoalan cinta agar tidak salah dalam mengartikan cinta. serta tidak mengesampingkan perlunya kita memenuhi aturan-aturan dalam agama yang telah tertera dalam Al-Qur’an dan Al-Hadits serta beberapa pemaparan mengenai hukum fiqih yang telah dikaji oleh para ulama’.

DAFTAR PUSTAKA

Ridha,Abdurrasyid. 2003.Memasuki Makna Cinta.Yogyakarta: Pustaka Pelajar

Sobur,Alex.2003.Psikologi Umum.Bandung:CV Pustaka Setia

Santrock,John.2002. Life-Span Development.Jakarta: Erlangga

Alwisol. 2009. Psikologi Kepribadian. Malang: UMM Press

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s