KEEFEKTIFAN MUSIK DALAM PROSES PEMBELAJARAN HOMESCHOOLING


KEEFEKTIFAN MUSIK DALAM PROSES PEMBELAJARAN

HOMESCHOOLING

Latar Belakang

 Music sudah muncul berabad-abad tahun lalu. Mulai dari Dinasti Ming sampai zaman sekarang. Setiap zaman pun music terus berkembang dan menjadi dominasi saat ini. Ada sebuah pepatah yang mengatakan “ I can’t life without music”. Music menjadi salah satu unsur penting dalam mewarnai kehidupan manusia. Hampir semua orang menyukai music dengan aliran yang berbeda-beda, ada klasik, pop, rok,ballad,dll. Music bukan hanya dinikmati saat waktu senggang saja namun music bisa digunakan sebagai pengiring belajar.  Music dalam proses belajar mampu meningkatkan konsentrasi seseorang. Namun tidak semua orang cocok dengan gaya belajar seperti ini. Ada yang memang senang dan mudah jika belajar di iringi msik, namun ada juga yang tergaggu jika belajar dengan music.  Pada kesempatan ini  peneiti ingin meneliti bagaimana keefektifan music jika digunakan dalam proses pembelajaran homeschooling. Untuk itu peneliti mengambil judul “ Keefektifan Musik dalam proses belajar Homeschooling”.

Rumusan Masalah

  1. Bagaimana tingkat keefektifan music dalam proses belajar Homeschooling?
  2. Bagaimana tingkat konsentrasi siswa homeschooling jika saat belajar diiringi music
  3. Jenis music apa yang cocok digunakan dalam proses belajar

Tujuan

  1. Untuk mengetahui keefktifan music dalam proses belajar homeschooling.
  2. Untuk mengetahuai tingkat konsentrasi pesera homeschoolig jika saat belajar di iringi music.
  3. Jenis music apa yang cocok saat digunakan dalam proses belajar.

KAJAIAN TEORI

Pengertian

Dalam bahasa Indonesia, terjemahan dari homeschooling adalah “sekolah rumah”. Istilah ini dipakai secara resmi oleh Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas) untuk menyebutkan homeschooling. Selain sekolah rumah, homeschooling terkadang diterjemahkan dengan istilah sekolah mandiri. Homeschooling merupakan model pendidikan alternatif selain di sekolah. Pengertian umum homeschooling adalah model pendidikan di mana sebuah keluarga memilih untuk bertanggung jawab sendiri atas pendidikan anak-anaknya dan mendidik anaknya dengan menggunakan rumah sebagai basis pendidikannya. Orangtua bertanggung jawab secara aktif atas proses pendidikan anaknya. Bertanggung jawab secara aktif di sini adalah keterlibatan penuh orangtua pada proses penyelenggaraan pendidikan, mulai dalam hal penentuan arah dan tujuan pendidikan, nilai-nilai (values) yang ingin dikembangkan, kecerdasan dan keterampilan yang hendak diraih, kurikulum dan materi pembelajaran hingga metode belajar serta praktik belajar keseharian anak (Sumardiono, 2007).

Home schooling secara etimologis dapat dimaknai sebagai sekolah rumah. Namun pada hakekatnya home schooling merupakan sebuah sekolah alternatif yang mencoba menempatkan anak sebagai subjek belajar dengan pendekatan pendidikan secara at home.(Ali Muhtadi.)

Menurut Wichers (2001) homeschooling didesain sebagai situasi pembelajaran di mana anak diajarkan pada umumnya oleh orang tua mereka, dalam lingkungan yang non tradisional. Orang tua merasa lebih nyaman bila menerapkan homeschooling bagi anak-anaknya. Selain lebih aman, orang tua akan dapat lebih intensif membantu tumbuh kembang anak. Dalam homeschooling penekanannya lebih kepada partisipasi dari orang tua dalam merancang pendidikan anak-anaknya, karena pada dasarnya orang tua-lah yang lebih mengenal karakter anak-anaknya. Orang tua dapat merancang pola didik yang paling sesuai dengan karakter, minat, dan bakat anaknya. Holt (dalam Griffith, 2006) mengatakan bahwa homeschooling merupakan sebuah pendidikan yang dilakukan ’tanpa sekolah’ dan dilakukan di dalam rumah, serta berdasarkan pada pembelajaran yang terpusat pada anak. Menurut Yulfiansyah (2006)

homeschooling merupakan sebuah wacana pembelajaran yang menitikberatkan kepada pemanfaatan potensi anak didik dengan sedikit supervisi. Anak yang homeschooling diberi kesempatan untuk mengembangkan kemampuan berpikir dan bernalar secara komprehensif, optimal dan mengoptimalkan kreativitasnya.

Jenis-jenis kegiatan homeschooling

Di Indonesia, jenis kegiatan homeschooling dibedakan atas (3) tiga format, yaitu:

  1. Homeschooling tunggal

Mulyadi (2007) menyebutkan homeschooling tersebut dilaksanakan oleh orangtua dalam satu keluarga tanpa bergabung dengan yang lainnya. Biasanya homeschooling jenis ini diterapkan karena adanya tujuan atau alasan khusus yang tidak dapat diketahui atau dikompromikan dengan komunitas homeschooling lain. Alasan lain adalah karena lokasi atau tempat tinggal si pelaku homeschooling yang tidak memungkinkan berhubungan dengan komunitas homeschooling lain. Sumardiono (2007) menyebutkan alasan format ini dipilih oleh keluarga karena ingin memiliki fleksibilitas maksimal dalam penyelenggaraan homeschooling. Mereka bertanggung jawab sepenuhnya atas seluruh proses yang ada dalam homeschooling, mulai dari perencanaan, pelaksanaan, evaluasi, pengadministrasian, hingga penyediaan sarana pendidikan. Disebutkan bahwa formal homeschooling tunggal memiliki kompleksitas tinggi karena seluruh beban/tanggung jawab berada di tangan keluarga.

  1. Homeschooling majemuk

Mulyadi (2007) mengatakan bahwa homeschooling tersebut dilaksanakan oleh dua atau lebih keluarga untuk kegiatan tertentu sementara kegiatan pokok tetap dilaksanakan oleh orangtua masing masing. Alasannya terdapat kebutuhan-kebutuhan yang dapat dikompromikan oleh beberapa keluarga untuk melakukan kegiatan bersama. Contohnya kurikulum dari kegiatan olahraga, seni/musik, sosial, dan keagamaan. Sumardiono (2007) menambahkan bahwa jenis kegiatan ini memberikan kemungkinan pada keluarga untuk saling bertukar pengalaman dan sumber daya yang dimiliki tiap keluarga.Selain itu, jenis kegiatan ini dapat menambah sosialisasi sebaya dalam kegiatan bersama di antara anak-anak homeschooling. Tantangan terbesar dari format homeschooling majemuk adalah mencari titik temu dan kompromi dan kompromi atas hal-hal yang disepakati antara para anggota homeschooling majemuk karena tidak adanya keterikatan struktural.

  1. c.              Komunitas homeschooling

Mulyadi (2007) menyebutkan komunitas homeschooling merupakan gabungan beberapa homeschooling majemuk yang menyusun dan menentukan silabus, bahan ajar, kegiatan pokok (olahraga, musik/seni, dan bahasa), sarana/prasarana, dan jadwal pembelajaran. Komitmen penyelenggaraan orangtua dan komunitasnya kurang lebih 50:50. Sumardiono (2007) menyebutkan bahwa komunitas homeschooling membuat struktur yang lebih lengkap dalam penyelenggaraan aktivitas pendidikan akademis untuk pembangunan akhlak mulia, pengembangan inteligensi, keterampilan hidup dalam pembelajaran, penilaian, dan kriteria keberhasilan dalam standar mutu tertentu tanpa menghilangkan jati diri dan identitas diri yang dibangun dalam keluarga dan lingkungannya. Selain itu, komunitas homeschooling diharapkan dapat dibangun fasilitas belajar mengajar yang lebih baik yang tidak diperoleh dalam Homeschooling tunggal/majemuk, misalnya bengkel kerja, laboratorium alam, perpustakaan, laboratorium IPA/bahasa, auditorium, fasilitas olahraga, dan kesenian.( Universitas Sumatera Utara)

Tinjauan Praktis Pelaksanaan Home Schooling

  • Ada beberapa persyaratan yang perlu dipenuhi para orang tua yang ingin melaksanakan model pendidikan homeschooling agar berjalan sesuai dengan tujuan pendidikan homeschooling itu sendiri, antara lain yaitu: mencintai anak-anak,
  • kreatif,
  • sabar dan bersahabat dengan anak,
  • memahami kebutuhan dan keinginan anak
  • mengetahui kemampuan dan ketertarikan anak
  • mau mendengar dan bernegosiasi
  • mau berubah, fleksibel, dan tanggap
  • memahami kondisi fisik, psikis, dan mood anak
  • memiliki kemauan untuk mau tahu standar kompetensi dan standar isi kurikulum nasional yang sudah diakui dan disyahkan oleh BSNP
  • memiliki komitmen waktu untuk belajar bersama anak.

Pendekatan homeschooling memiliki rentang yang lebar antara yang sangat tidak terstruktur (unschooling) hingga yang sangat terstruktur seperti belajar di sekolah (school at-home). Adapun beberapa jenis pendekatan sekolah rumah dapat diidentifikasikan sebagai berikut:

  1. 1.    School at-home

model pendidikan yang serupa dengan yang diselenggarakan di sekolah. Hanya saja, tempatnya tidak di sekolah, tetapi di rumah. Metode ini juga sering disebut textbook approach, traditional approach, atau school approach.

  1. 2.    Unit studies

model pendidikan yang berbasis pada tema (unit study). Pendakatan ini banyak dipakai oleh orang tua homeschooling. Dalam pendekatan ini, siswa tidak belajar satu mata pelajaran tertentu (matematika, bahasa, dsb), tetapi mempelajari banyak mata pelajaran sekaligus melalui sebuah tema yang dipelajari. Metode ini berkembang atas pemikiran bahwa proses belajar seharusnya terintegrasi (integrated), bukan terpecah-pecah (segmented).

  1. 3.    Charlotte Mason atau The Living Book Approach

model pendidikan melalui pengalaman dunia nyata. Metode ini dikembangkan oleh Charlotte Mason. Pendekatannya dengan mengajarkan kebiasaan baik (good habit), keterampilan dasar (membaca, menulis, matematika), serta mengekspose anak dengan pengalaman nyata, seperti berjalan-jalan, mengunjungi museum, berbelanja ke pasar, mencari informasi di perpustakaan, menghadiri pameran, dan sebagainya.

  1. 4.    Classical, Waldorf, Montessori, dan Eclectic

Clsassical : model pendidikan yang dikembangkan sejak abad pertengahan. Pendekatan ini menggunakan kurikulum yang distrukturkan berdasarkan tiga tahap perkembangan anak yang disebut Trivium. Penekanan metode ini adalah kemampuan ekspresi verbal dan tertulis. Pendekatannya berbasis teks/literatur (bukan gambar/image). The Waldorf approach adalah model pendidikan yang dikembangkan oleh Rudolph Steiner, banyak ditetapkan di sekolah-sekolah alternatif Waldorf di Amerika. Karena Steiner berusaha menciptakan setting sekolah yang mirip keadaan rumah, metodenya mudah diadaptasi untuk homeschool. The Montessori approach adalah model pendidikan yang dikembangkan oleh Dr. Maria Montessori. Pendekatan ini mendorong penyiapan lingkungan pendukung yang nyata dan alami, mengamati proses interaksi anak-anak di lingkungan, serta terus menumbuhkan lingkungan sehingga anak-anak dapat mengembangkan potensinya, baik secara fisik, mental, maupun spiritual. The Eclectic approach memberikan kesempatan pada keluarga untuk mendesain sendiri program homeschooling yang sesuai, dengan memilih atau menggabungkan dari sistem yang ada.

  1. Unschooling atau Natural Learning.

Unschooling approach berangkat dari keyakinan bahwa anak-anak memiliki keinginan natural untuk belajar dan jika keinginan itu difasilitasi dan dikenalkan dengan pengalaman di dunia nyata, maka mereka akan belajar lebih banyak daripada melalui metode lainnya. Unschooling tidak berangkat dari textbook, tetapi dari minat anak yang difasilitasi.(Ali Muhtadi.)

Faktor-Faktor Pemicu dan Pendukung Homechooling

  • Kegagalan sekolah formal

Baik di Amerika Serikat maupun di Indonesia, kegagalan sekolah formal dalam menghasilkan mutu pendidikan yang lebih baik menjadi pemicu bagi keluarga-keluarga di Indonesia maupun di mancanegara untuk menyelenggarakan homeschooling. Sekolah rumah ini dinilai dapat menghasilkan didikan bermutu.

  • Teori Inteligensi ganda

Salah satu teori pendidikan yang berpengaruh dalam perkembangan homeschooling adalah Teori Inteligensi Ganda (Multiple Intelligences) dalam buku Frames of Minds: The Theory of Multiple Intelligences (1983) yang digagas oleh Howard Gardner. Gardner menggagas teori inteligensi ganda. Pada awalnya, dia menemukan distingsi 7 jenis inteligensi (kecerdasan) manusia. Kemudian, pada tahun 1999, ia menambahkan 2 jenis inteligensi baru sehingga menjadi 9 jenis inteligensi manusia. Jenis-jenis inteligensi tersebut adalah:Inteligensi linguistik; Inteligensi matematis-logis; Inteligensi ruang-visual; Inteligensi kinestetik-badani; Inteligensi musikal; Inteligensi interpersonal; Inteligensi intrapersonal; Inteligensi ligkungan; dan Inteligensi eksistensial.

Teori Gardner ini memicu para orang tua untuk mengembangkan potensi-potensi inteligensi yang dimiliki anak. Kerapkali sekolah formal tidak mampu mengembangkan inteligensi anak, sebab sistem sekolah formal sering kali malahan memasung inteligensi anak.

(Buku acuan yang dapat digunakan mengenai teori inteligensi ganda ini dalam bahasa Indonesia ini, Teori Inteligensi Ganda, oleh Paul Suparno, Kanisius: 2003).

  • Sosok homeschooling terkenal

Banyaknya tokoh-tokoh penting dunia yang bisa berhasil dalam hidupnya tanpa menjalani sekolah formal juga memicu munculnya homeschooling. Sebut saja, Benyamin Franklin, Thomas Alfa Edison, KH. Agus Salim, Ki Hajar Dewantara dan tokoh-tokoh lainnya.

Benyamin Franklin misalnya, ia berhasil menjadi seorang negarawan, ilmuwan, penemu, pemimpin sipil dan pelayan publik bukan karena belajar di sekolah formal. Franklin hanya menjalani dua tahun mengikuti sekolah karena orang tua tak mampu membayar biaya pendidikan. Selebihnya, ia belajar tentang hidup dan berbagai hal dari waktu ke waktu di rumah dan tempat lainnya yang bisa ia jadikan sebagai tempat belajar.

  • Tersedianya aneka sarana

Dewasa ini, perkembangan homeschooling ikut dipicu oleh fasilitas yang berkembang di dunia nyata. Fasilitas itu antara lain fasilitas pendidikan (perpustakaan, museum, lembaga penelitian), fasilitas umum (taman, stasiun, jalan raya), fasilitas sosial (taman, panti asuhan, rumah sakit), fasilitas bisnis (mall, pameran, restoran, pabrik, sawah, perkebunan), dan fasilitas teknologi dan informasi (internet dan audivisual).( Pormadi Simbolon.2007)

Model Pelaksanaan Kegiatan Pembelajaran Home Schooling

Secara umum model pelaksanaan homeschooling di Indonesia dapat diidentifikasikan sebagai berikut:

  • Pelaksanaan kegiatan pembelajaran murni dilakukan oleh orang tua di rumah/lingkungan
  • Pelaksanaan kegiatan pembelajaran dilakukan oleh orang tua dan tutor di rumah dan di dalam komunitas. Biasanya kegiatan di komunitas dilaksanakan 2 kali dalam seminggu
  • Pelaksanaan kegiatan menggunakan sistem campuran: 3 hari di sekolah formal yang mendukung home schooling (seperti di Morning Star Academy) dan selebihnya di rumah/lingkungan oleh orang tua.
  • Pelaksanaan kegiatan pembelajaran bergabung dengan PKBM (Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat) dengan tatap muka minimal 5×3 jam per minggu, selebihnya mandiri dan bersama orang tua.(Ali Muhtadi.)

MUSIK

Menurut Adjie (2006) musik adalah kesenian yang bersumber dari bunyi. Musik dibangun oleh 4 unsur, nada atau bunyi yang teratur, amplitude kuat lemahnya bunyi yang bahasa musiknya disebut “dinamik”. Unsur waktu yang terdiri atas panjang pendeknya bunyi (hitungan panjang pendeknya / ketukan nada serta timbre atau warna suara (sound). Apabila cetusan ekspresi isi hati dikeluarkan lewat mulut manusia disebut musik vokal, dan apabila lewat alat-alat musik disebut dengan instrumentalis.

Menurut Meriam dalam bukunya yang berjudul The Antropology of musik 145-163, ada dua proses pembelajaran musik yaitu :

a. Learning musik by imitation (pembelajaran musik dengan proses meniru). Belajar musik dengan proses meniru merupakan suatu belajar musik yang tidak melibatkan pengajar, materi pelajaran dan tempat belajar yang formal. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa proses belajar semacam ini adalah proses belajar musik yang paling sederhana karena hanya melibatkan musik sebagai sumber bunyi. Dalam hal ini seorang pelajar musik akan mendengarkan dan mengamati musik yang dimainkan oleh pelaku musik yang kemudian ditiru berdasarkan rasa musik yang dimiliki oleh pelajar itu. Dalam proses belajar musik ini pelaku musik yang ditiru sangat beragam seperti : meniru musisi yang digemari, meniru orang yang terdekat dan yang lebih tua misalnya saudara dan orangtua dan sebagainya.

Learning musik by teaching (Proses belajar musik dengan pengajaran).

Proses belajar musik ini melibatkan 3 hal penting yaitu :

a. Motivation (motivasi). Motivasi merupakan suatu teknik yang melibatkan punishment (hukuman), diberikan apabila murid bersalah. Threatened(ancaman) memberi peringatan kepada para murid agar tidak melakukan kesalahan-kesalahan inciting (memacu), dilakukan agar murid lebih bersemangat.

b. Guidence (bimbingan), terdiri dari leading (pengarahan) yang mana guru memberi penjelasan tentang apa yang sedang diajarkan. Instructing (perintah), guru memerintahkan murid untuk mempraktekkan apa yang sedang diajarkan. Demonstrating (mempertunjukkan), guru memberi contoh kepada murid tentang apa yang sedang diajarkan.

c. Reword (Penghargaan), terdiri dari helping (memberikan bantuan), giving (pemberian hadiah), praising (memberikan pujian) dan allowing (memberikan pengakuan). (universitas sumatera selatan:2009)

Rancangan Observasi

1.0 Metode

Untuk penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode observasi untuk meneliti keefektifan music dalam proses belajar anak Homeschooling.

1.1 Subjek penelitian

            Subjek yang akan diteliti pada penelitian ini adalah siswa/siswi homeschooling. Untuk jumlah subjek, menggunakan 4 subjek karena penelitian dengan menggunakan pendekatan kualitatif lebih menerapkan proses, peristiwa dan otentisitas subjek .

1.2 Tahapan penelitian

Tahapan yang perlu dilakukan saat akan melakukan penelitian  menurut adalah:

  1. Tahap persiapan, menyiapkan garis besar permasalahan mengobservasi serta menentukan subyek yang aka di observasi.
  2. Tahap pelaksanaan, mulai mengobservasi kegiatan belajar siswa homeschooling

1.3 Teknik pengambilan data

Data diperoleh dari pengambilan langsung (observasi) dalam proses balajar siswa Homeschooling.

1. Observasi

Menurut moleong (2005), berdasarkan keterlibatan pengamat dalam kegiatan orang-orang yang diamati, observasi dapat dibedakan menjadi:

a. Observasi partisipan

Suatu observasi dimana pengamat ikut terlibat dalam kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh subyek yang diteliti atau diamati seolah-olah pengamat merupakan bagian dari mereka.

b. Observasi non partisipan

Observasi dimana pengamat berada di luar subjek yang diteliti dan tidak ikut dalam kegiatan-kegiatan yang mereka lakukan.

Dalam pengamatan ini peneliti menggunakan bentuk observasi non partisipan dimana peneliti hanya mengamati tingkah laku subjek tanpa ikut aktif dalam kegiatan subjek, karena peneliti hanya sebagai pengamat.

2.0 Teknik pencatatan

Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan teknik pencatatan narasi. Dimana peneliti menggunakan file note sebagai alat bantu mencatat.

3.0 Perencangan Jadwal

Peneliti akan melaksanakan observasinya pada:

Hari                 : selasa, 5 Juni 2012

Tempat           : Sekolah Dolan,lokasi kedua

Alamat           : Vila bukit tidar gang A4 no 209

Obyek             : siswa homeschooling Sekolah dolan kelas 4-SMA

Hasil Observasi

Pencatatan

Observer          : Indra Rakhmawati

Observee         : Siswa Homeschooling Sekolah Dolan

Waktu             : Selasa, 5 Juni 2012

Tempat            : Vila Bukit Tidar gang A4 no 209

Lama               : 1 jam 4 menit

Sering              :2

09.00 WIB

Ada 5 anak, 4 laki-laki 2 perempuan. Tiga wanita pemandu ( mahasiswa Magang dari UMM sem 6) dan 2 pengajar.

1 anak laki-laki bernama Ari diberi tebakan oleh pengajar. 2 anak laki-laki  sedang main game. 1 perempuan belajar di samping 2 anak itu.

1 perempuan bernama Indri datang. Ia belajar dengan mendengarkan music memakai headphone ditelinganya. Aliran music jazz berbahasa inggris. Dia sedang membaca soal dari buku biologi yang dia bawa. Dia memainkan Hp nya dan menutup buku.

09.17 WIB

3 anak bermain game, 1 perempuan sedang membaca bukunya, 1 laki-laki bernama Arif mengerjakan soal matematika, Indri membaca bukunya dengan mendengarkan music ditelinganya. Terlihat ia berbicara kepada Kak Novi (mahasiswa Magang) dan menceritakan tentang temannya. Indri mencari video yang mau dia tunjukkan pada kak Novi, tapi tidak ketemu. Setelah itu ia menyanyi, melepaskan headsatenya dan mengerjakan soal yang ada dibukunya.

 09.22 WIB

1 siswa  datang ke ruangan. Kak Novi mengajak Indri  mengobrol. Siswa yang baru datang membuka bukunya dan membacanya. Indri mulai mengerjakan soal kembali tanpa mendengarkan music.

9.26 WIB

2 anak perempuan datang, dengan baju yang kembar dengan Indri ( dua anak itu bernama Dila dan Dinda). Indri menyisir rambut Dila yang berantakan. Terjadi obrolan atara Indri,Dila dan Dinda. 1 siswa laki-laki datang. Kak Novi mengambil meja dan menyerahkannya pada Indri,Dinda dan Dila. Indri mulai mendengarkan music lagi, DIla dan Dinda berbincang. Pak Amir menunjukkan soal yang harus dikerjakan, Dila mendengarkan music sambil bernyanyi.

09.36

Indri,Dinda dan Dila masih mengobrol. Sesekali Indri menyanyi. Dila selesai mengerjakan soal yang diberikan pak Amir. Indri membaca music dengan mendengarkan music.

Dinda bertanya tentang soal yang sedang ia kerjakan. Lalu dia mengerjakan soal dengan diam.

09.43

Dila yang duduk disamping Indri mulai mengerjakan soal sambil mendengarkan music dengan Hadesed. Ia meminta pembimbing (kak Novi) untuk mencarikan materi soal yang ia tidak bisa jawab. Pembimbing( Kak Novi) tidak bisa membantu Dila menemukan materi yang dia taya.

Dila memainkan HP. Indri, Dila dan Dinda berdiskusi tentang materi pelajaran. Dila dan Dinda sudah selesai mengerjakan soalnya.

09.53

Kak Novi memberi game menebak warna, Indri, Dila dan DInda menebaknya bersama. Dari 12 soal 11 benar dan 1 salah.

09.54

Pak Lukman datang. Dila mebercerita pada Pak Lukman tentang kesulitannya mengerjakan soal matematika. Dinda memainkan HP nya. Pak Lukman mengomentari rambut Dila yang berponi. Indri mengobrol dengan Dinda.

Pak Lukman member tahu kalau salah satu keluarga Pak Bamabang ada yang meninggal, ia meminta anak-anak untuk mengucapkan turut berduka cita kalau Pak Bambang datang.

Kak Finda mengajar salah satu siswa laki-laki ( bernama Arip). Siswa ini mengerjakan soal matematika dengan mendengrkan music. Kak Finda mengarahkan siswa ini setiap soal, membenarkan yang salah dan meminta siswa ini mengerjakan lagi soal yang salah.

Pak Lukman bercerita kepada semua yang ada diruangan tentang arip yang menghabiskan banyak Tix ep/

10.04

Dinda membaca buku, Dila meneliti nilai dari soal yang ia terima dari Pak Amir. Indri bermain game. Indri dan Dila bermain bersama.

10.20

Dila,Indri dan Dinda keluar ruangan. Arip juga selesai dengan belajarnya.

 

Pengolahan Data

Kode Deskripsi Interpretasi
1.1
  • Indri belajar dengan mendengarkan music memakai headphone ditelinganya. Aliran music jazz berbahasa inggris. Dia sedang membaca soal dari buku biologi yang dia bawa.
  • ·Dinda bertanya tentang soal yang sedang ia kerjakan. Lalu dia mengerjakan soal dengan diam.
  • Dila yang duduk disamping Indri mulai mengerjakan soal sambil mendengarkan music dengan Hadesed. Ia meminta pembimbing (kak Novi) untuk mencarikan materi soal yang ia tidak bisa jawab.
  • Kak Finda mengajar salah satu siswa laki-laki ( bernama Arip). Siswa ini mengerjakan soal matematika dengan mendengrkan music.
  • Dinda membaca buku
  • Indri membaca bukunya dengan mendengarkan music ditelinganya.
  • Arif mulai mengerjakan soal dipandu oleh kak Finda sambil mendengarka music di telinganya. Indri bernyanyi sambil membaca bukunya.Dinda masih mengerjakan soal-soalnya.
  • ·Dila mulai membaca buku lagi.Dinda sudah menyelesaikan soal-soalnya. Indri juga sudah membaca bukunya.arif masih dibandu kak Filda untuk mengerjakan soal-soal.
  • Terlihat indri tampak serius membacaa soal biologi di bukunya. Dengan di iringi aliran music jazz berbahasa inggris, Indri mampu berkonsentrasi saat mengerjakan soal-soalnya.
  • Dinda bisa berkonsentrasi penuh dalam mengerjakan soal-soalnya tanpa mendengarkan music.
  • Dila mengalami kesulitan saat mengerjakan soal-soalnya. Namun ia terlihat santai menikmati music yang ia dengar, dan meminta pembimbing untuk mencarikan bab yang ia perlukan.
  • “Arif” dengan mendengarkan music, ia tampak serius dalam mengerjakan soal-soal matematika dibawah bimbingan kak Finda.

Dinda bisa mengkondisikan dirinya untuk terus berkonsentrasi.

  • Indri mampu berkonsentrasi saat membaca buku dengan iringan music, dan dia tampak terlihat enjoi.
  • Arif, Indri, mereka berdua mampu berkonsentrasi dengan baik, dengan di iringi music. Berbeda dengan Dinda yang tingkat konsentrasinya lebih tinggi tanpa mendengarkan music.
  • Mereka memiliki tingkat konsentrasi berbeda-beda.
1.2
  • Indri memainkan Hp nya dan menutup buku. Terlihat ia berbicara kepada Kak Novi (mahasiswa Magang) dan menceritakan tentang temannya.
  • Indri menyisir rambut Dila yang berantakan.
  • Dila mendengarkan music sambil bernyanyi
  • Dila memainkan HP. Indri
  • Pada waktu ini, Indri tidak berkonsentrasi dalam belajar. Ia terlihat asyik mengobrol dengan pembimbingnya.
  • Indri membantu temannya untuk menyisir rambut temannya yang berantakan.
  • Dila tampak asyik menikmati music yang ia dengarkan
  • Dila sedang bermain-main denga Hp Indri dan tidak menghiraukan bukunya.

ANALISIS DAN KESIMPULAN

Analisis

Sekolah Dolan merupakan salah satu lembaga Homeschooling yang ada dimalang. Selain membantu para orang tua untuk mengadakan homeschooling dirumah masing-masing, sekolah dolan juga mengadakan homeschooling di tempatnya. Tempatnya berada di Vila bukit Tidar No 209. Dengan 2 tempat sebagai sarana pembelajaran. Tempat pertama ditempati untuk siswa dibawah kelas 3 SD dan tempat kedua untuk Siswa kelas 4 sampai SMA.  Untuk siswa dibawah kelas 3, mereka masuk hari senin sampai hari jum’at, dan untuk kelas 4- SMA mereka hanya masuk hari senin,selasa dan kamis. Dalam observasi kali ini observer mengambil tempat observasi di tempat kedua untuk siswa kelas 4 sampai SMA. Dengan mengambil 4 siswa sebagai  observee. Observe pertama bernama Indri berusia 12 Tahun, observe kedua bernama Dila berusia 12 tahun, observe ketiga Dinda berusia 12 tahun, observe keempat Arif. Indri, Dila dan Arif adalah Siswa yang mendengarkan music saat belajar mereka. Sedangkan Dinda tidak menggunakan music saat belajar.

Dalam penelitian ini. Observer telah menemukan adanya bukti keefektifan music dalam proses pembelajaran homeschooling. Arif, Indri dan Dila adalah siswa homeschooling yang selalu belajar dengan mendengarkan music saat mereka belajar. Music yang Dila dan Indri  dengarkan adalah music berbahasa Inggris dan beraliran jazz. Pronoun mereka saat menirukan lagu yang mereka dengarkan cukup bagus dan benar. Berbeda dengan Arif, Indri dan Dila lebih santai belajar dengan mendengarkan music, sedangkan Arif selalu serius. Jika dilihat dari konsentrasi diantara mereka, yang paling baik dalam berkonsentrasi adalah Arif. Arif mampu berkonsentrasi dari awal dia  belajar sampai akhir ia belajar. Sedang Indri dan Dila, mereka sering kehilangan konsentras dan terkecoh dengan keadaan disekitarnya.   Saat belajar, Indri dan Dila hanya mampu berkonsentrasi kurang dari 15 menit. Jika ada sesuatu hal yang menarik atau diajak mengobrol mereka akan menaggapinya, jika sudah selesai mereka kembali berkonsentrasi belajar. Dan begitu seterusnya. Sedang untuk Dinda ia belajar dari awal tanpa mendengarkan music. Dia tampak lebih serius saat belajar, namun hampir sama dengan Indri dan Dila, jika dia diajak mengobrol maka dia akan menanggapinya. Namun dibanding Indri da Dila,Dinda memiliki konsentrasi belajar yang lebih.

Dari  uraian diatas bisa disimpulkan bahwasanya music memiliki keefktifan dalam proses pembelajaran Homeschooling. Siswa yang mendengarkan music saat belajar mampu berkonsentrasi, Namun untuk setiap individu tingkat konsentrasinya berbeda-beda. Ada yang bertahan sampai satu jam atau hanya 15 menit. Jika kita lihat pada penelitian lain, bahwa konsentrasi seseorang pada umumnya hanya berdurasi 20 menit pada umumnya. Dengan mendengarkan music, konsentrasi ini bisa bertambah bahkan sampai 1 jam.

Kesimpulan

1. Bagaimana tingkat keefektifan music dalam proses belajar Homeschooling?

Dalam penelitian ini ditemukan bahwa music memiliki tingkat keefktifan yang cukup baik saat digunakan dalam proses belajar. Dan membuat siswa lebih enjoi dalam belajar.

  1. Bagaimana tingkat konsentrasi siswa homeschooling jika saat belajar diiringi music?

Jika dilihat dari data yang ada, tingkat konsentrasi setiap individu berbeda-beda, namun bisa disimpulkan bahwasanya music bisa menambah durasi konsentrasi seseorang saat belajar. Yang jika pada umumnya seseorang hanya mampu berkonsentrasi selama 20 menit, dengan adanya music mampu menambah durasi konsentrasi hinggang 1 jam. Dan itu membuktikan bahwa music lebih efektif dalam proses pembelajaran.

2. Jenis music apa yang cocok digunakan dalam proses belajar

Jenis music yang cocok digunakan pun juga bermacam-macam tergantung selera. Namun dalam penelitian ini observer menemuka bahwa music jazz berbahasa inggris cukup efektif digunakan saat proses belajar. Dalam penelitian lain, menyebutkan bahwa music yang efektf adalah music klasik dengan bahasa yang tidak diketahui oleh pengguna, sehingga pengguna hanya menikmati irama musiknya dalam belajar tanpa menirukan lyric lyric lagunya.

DAFTAR PUSTAKA

Ali Muhtadi.2009. Pendidikan Dan Pembelajaran Di Sekolah Rumah (Home Schooling) Suatu Tinjauan Teoritis dan Praktis.Pendidikan

Http://homeschooling.cipta-teknologi.info/viewtopic.php?t=9

Seto Mulyadi, (2007). Homeschooling Keluarga Kak-Seto: Mudah, Murah, Meriah, dan Direstui Pemerintah. Bandung: Kaifa PT Mizan Pustaka.

file:///C:/Documents%20and%20Settings/iin_elek/My%20Documents/Downloads/New%20Folder/jeph%20%20musik%20sebagai%20motivasi%20belajar.htm

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s