Langkah-langkah dalam Konseling


Pengertian Membangun Hubungan  (antara konselor dan konselii)

Pengertian hubungan konseling secara umum dipakai oleh semua kaum professional yang melayani manusia, seperti profesi konselor, pekerja sosial,dokter,dan sebagainya. Hubungan konseling adalah hubungan yang membantu ,artinya pembimbing berusaha membantu si terbimbing agar tumbuh ,berkembang,sejahtera,dan mandiri.

Shertzer dan stone (1980) mendefinisikan hubungan konseling yaitu : interaksi antara orang dengan orang lain yang dapat menunjang dan memudahkan secara positif bagi perbaikan orang tersebut.Orang – orang yang membantu tersebut adalah kaum professional yang kegiatannya adalah untuk memudahkan orang lain dalam memahami,mengubah,atau untuk memperkarya perilakunya,sehingga terjadi perubahan positif.kaum professional ini tertarik pada perilaku manusia yaitu ,perasaan,sikap,motif,ide,kebutuhan ,pengetahuan,dan seluruh kehidupan manusia.

Mengembangkan  hubungan Konseling :

Mengembangkan hubungan konseling adalah upaya konselor untuk meningkatkan keterlibatan dan keterbukaan klien,sehingga akan memperlancar proses konseling,dan segera mencapai tujuan konseling yang diinginkan oleh klien atas bantuan konselor.Bentuk utama hubungan konseling adalah pertemuan pribadi dengan pribadi (konselor-klien) yang dilatarbelakangi oleh lingkungan (internal-eksternal).

Menurut Barbara Okun (1987:22) jika terjadi hubungan konseling maka yang berhadapan adalah helper’s environment dengan helpee’s environment dimana terdapat aspek – aspek : sikap,kebutuhan,nilai,keyakinan dan ketrampilan.

Menurut penulis ini bahwa hubungan konseling dimulai pertemuan konselor-klien dan fokus perhatian adalah pada kepedulian klien.kepedulian tersebut bisa berbentuk isu,gejala,atau masalah.Disinilah pentingnya peranan skill seorang konselor untuk mendudukkan masalah itu sehingga klien mampu mengatasinya.

1)      Keterbukaan

Keterbukaan klien juga ditentukan oleh bahasa tubuh konselor.untuk menciptakan situasi kondusif bagi ketrbukaan dan kelancaran proses konseling,maka sifat – sifat empati, jujur, asli,mempercayai ,toleransi, respek,menerima,dan komitmen terhadap hubungan konseling,amat diperlukan dan dikembangkan oleh konselor.sifat sifat tadi akan memperlancar pada perilaku konselor sehingga klien terpengaruh,dan kemudian klien mengikutinya.maka klien akan menjadi terbuka dan terlibat dalam pembicaraan.

2)      Mengembangkan hubungan konseling yang rapport (akrab)

Dalam hubungan konseling pada prinsipnya ditekankan bagaimana konselor mengembangkan hubungan konseling yang rapport (akrab) dan dengan memanfaatkan komunikasi verbal dan non verbal.Jadi konseling bukan menomorsatukan content (masalah klien ).Demikian pula strategi dan tekhnik janganlah diutamakan .hubungan konseling yang menumbuhkan kepercayaan klien terhadap konselor adalah penting.sehingga klien akan terbuka dan mau terlibat pembicaraan .Menggali feeling klien termasuk rahasia – rahasia pribadinya merupakan hal penting dalam hubungan konseling.

Jika terjadi rapport dalam hubungan konseling ,berarti hubungan tersebut telah mencapai puncak.Artinya dalam kondisi ini ,kondusif sekali dalam keterbukaan klien.

Ada beberapa hal yang perlu dipelihara dalam hubungan konseling :

1)      Kehangatan,Artinya konselor membuat situasi hubungan konseling itu demikian hangat dan bergairah,bersemangat.Kehangatan disebabkan adanya rasa bersahabat,tidak formal,serta membangkitkan nsemangat dan rasa humor.

2)      Hubungan yang empati,yaitu konselor merasakan apa yang dirasakan klien,dan memahami akan keadaan diri serta masalah yang dihadapinya.

3)      Keterlibatan klien, yaitu terlihat klien bersungguh – sungguh mengikuti proses konseling dengan jujur mengemukakan persoalannya,perasaannya,dan keinginannya.

  1. a.  Identifikasi masalah dan penilaian dalam konseling

identintifikasi masalah Identifikasi masalah merupakan upaya menentukan hakikat masalah yang dihadapi oleh klien. Penentuan ini dapat menggunakan klasifikasi masalah sebagai berikut : Klasifikasi masalah menurut Bordin

a. Ketergantungan pada orang lain (dependence)

b. Kurang menguasai keterampilan (lack of skill)

c. Konflik diri (self conflict)

d. Kecemasan menentukan pilihan (choice anxiety)

e. Masalah yang tidak dapat diklasifikasikan (no problem) Klasifikasi masalah menurut Pepinsky

a. Kurang percaya diri (lack of assurance)

b. Kurang informasi (lack of information)

c. Kurang menguasai keterampilan yang diperlukan(lack of skill)

d. Bergantungan pada orang lain (dependence)

e. Konflik diri (self conflict) Dalam identifikasi masalah kita berusaha memahami apa yang dialami klien dan mencari kesulitan masalah yang dihadapi klien. Diagnosa mengambil kesimpulan untuk menentukan derita klien atau yang dirasakan klien. Dengan klasifikasi masalah dalam disgnosis sebagai berikut :

– Faktor ketidakpercayaan diri Ketergantungan pada oranglain, ketidaktahuan potensi yang ada, sulit mengambil keputusan, kurang informasi.

– Faktor depresi atau konflik diri Kecemasan(anxiety), gangguan pikiran, gangguan perasaan,dan gangguan tingkah laku.

– Faktor miskomunikasi atau misunderstanding Kurang informasi, kurang tanggap, kurang peka terhadap Identifikasi masalah dan penyebabnya Mengadakan pendataan masalah dan mencari tahu latar belakang terjadinya masalah. Identifikasi alternative pemecahan Memberikan beberapa pilihan penyelesaian dan pemecahan masalah diharapkan klien sendiri yang memilih.

 

  1. b.   Memfasilitasi Perubahan Terapeutis

Dalam langkah ini, yang dicari adalah strategi dan intervensi yang dapat memudahkan terjadinya perubahan. Sasaran dan strategi terutama ditentukan oleh sifat masalah, gaya dan teori yang dianut oleh konselor, keinginan klien dan gaya komunikasinya. Konselor dalam langkah ini memikirkan alternatif, melakukan evaluasi dan kemungkinan konsekuensi dalam berbagai alternatif, rencana tindakan. Dipertimbangkan juga strategi yang berasal dari berbagai macam pendekatan. Bagaimana caranya megubah hambatan afektif, melakukan pengelolaan stres (stres managemen), meningkatkan kemampuan penyelesaian masalah atau mengubah pola interaksi maladaptif.

Proses terapeutis atau konseling merupakan suatu yang berkelanjutan dan berlangsung terus menerus merupakan suatu lingkaran sampai akhirnya masala dapat diselesaikan. Berartit seorang konselor harus terus menerus mengevaluasi apa yang dilakukannya dan mengubahnya bila suatu strategi tidak dapat dilaksanakan atau dilanjutkan.

  1. c.       Evaluasi dan Terminasi

Suatu proses konseling pasti akan ada akhirnya. Dalam langkah keempat ini, dilakukan evaluasi terhadap hasil konseling, dan akhirnya terminasi. Indikatornya adalah sampai sejauh mana sasaran tercapai. Pertanyaan evasluasi progress (progress evaluation question) yang penting mencakup: apakah hubungan ini membantu klien? Dalam hal apa membantu? Bila tidak membantu, mengapa tidak? Bila tidak semua sasaran tercapai, sampai sejauh mana sudah tercapai. Keputusan untuk menghentikan adalah usaha bersama antara klien dan konselor, meskipun klien merupakan determinator utama bila sasaran sudah tercapai.

Hackney dan Cormier (2001), melihat langkah-langkah konseling sebagai berikut:

  1. Membangun hubungan dan rapport
  2. Assesment atau pendefinisian masalah
  3. Menetapkan sasaran
  4. Memulai intervensi
  5. Terminasi dan follow up

Materi ini diambil dari kumpulan makalah mahasiswa psikologi UIN Malang.

referensi buku

Lesmana, Murad, Jeanette. 2011. Dasar-Dasar Konseling. Jakarta: UI Press

Sofyan,Wilis, DR. 2010. Konseling Individual Teori dan Praktek. Bandung: Alfabeta

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s